Feeds:
Posts
Comments

untitled

“It’s not the events of our lives that shape us,

but our beliefs as to what those events mean”

deretan kata itu, entah sudah berapa kali saya ucapkan

baik di forum-forum resmi, atau di mentoring-mentoring yang saya lakukan

karena bagi saya pribadi, kata-kata itu punya daya magis tersendiri

sederhana akan tetapi mempunyai makna yang sangat dalam.

terjemahan bebasnya adalah

“tidak penting kejadian apa yang terjadi dalam kehidupanmu, akan tetapi pemaknaan kamu terhadap kejadian dalam hidupmu lah yang jauh lebih penting”

Ya, seringkali kita terlalu terpaku pada apa yang terjadi dalam hidup kita.

Masuk kuliah di kampus mentereng, dapat jabatan/posisi bagus di organisasi, dapat fasilitas ini dan itu,

akan tetapi sadarkah kita? ITU SEMUA TIDAK PENTING…

yang jauh lebih penting adalah apa pemaknaan kita terhadap peristiwa dalam hidup kita.

Apa pemaknaan kita ketika kita berkesempatan kuliah di kampus yang mentereng?

Apa pemaknaan kita ketika kita memegang suatu posisi strategis di organisasi?

ya pemaknaan itu jauh lebih penting.

Banyak orang yang gagal memahami ini. Sehingga walaupun ia telah diberi fasilitas yang luar biasa dan hidup di dalam lingkungan yang hebat,  ia tetap menjadi orang yang biasa saja.

Mari kita belajar dari Rasulullah SAW…

suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan di lorong kota madinah. Dan tiba-tiba terompahnya putus. Tahukah kawan, apa yang dipikirkan Rasulullah ketika menyadari bahwa terompahnya telah putus? Beliau kemudian bergumam “Ya Allah, apa dosa yang telah aku perbuat hari ini, sehingga terompahku putus?” Ya, itulah pemaknaan Rasulullah akan putusnya terompah yang beliau pakai !!

Mampukah kita menggali makna sedalam beliau?

Mengesampingkan rupa dan mengambil makna dari setiap kejadian dalam hidup kita!

Yuk, sama-sama belajar… ^^

subhanallah, entah berapa kali seharusnya lisan ini bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah.

Nikmat saudara seiman dan sevisi yang ada dan saling menjaga dalam ketaatan

Ya, Allah inikah jawaban do’aku ketika dengan “berat hati” memilih kampus ITB sebagai kampus perjuangan!?

Ya Allah, limpahilah mereka dengan segala Kebaikan dan RahmatMu yang berlimpah-limpah. Tambahkanlah kesyukuran mereka akan karuniaMu ya Allah. Dan jadikanlah mereka termasuk hamba-hamba yang Engkau cintai.

kado, buatan tangan, lebih indah dan bermakna

makasih teman-teman semua

moga Allah membalasnya dengan yang lebih baik dan lebih banyak ^^

tentang Qaulan Tsaqilan

dakwah ini adalah sebuah seruan pada kebenaran

yang kata-kata nya adalah qaulan tsaqilan, “kata-kata yang berat”

qaulan tsaqilan disini tidak hanya berbicara tentang diksi

qaulan tsaqilan disini tidak hanya berbicara tentang intonasi

qaulan tsaqilan berbicara tentang keimanan!

pernah suatu ketika, saya diminta menjelaskan keputusan jama’ah kepada para jundi dakwah

keputusan yang kontroversial memang, sehingga wajar ketika itu banyak yang menentangnya

dan ketika itu saya sama sekali tidak bisa meyakinkan ikhwah untuk taat pada keputusan

entahlah apa yang kemudian terjadi…

saat penjelasan itu akhirnya diberikan oleh seorang mas’ul, tiba-tiba semuanya terdiam.

Seakan puas dengan penjelasan yang diberikan.

Disitulah saya kemudian tertakjub, dan menyadari

“Inilah qaulan tsaqilan, kata-kata yang berat, berbobot”.

Apalah bedanya penjelasan saya dengan mas’ul tadi, toh secara diksi dan intonasi relatif sama.

kemudian saya menyadari, yang menjadi pembeda kemudian adalah tingkat keimanan!!!

konsistensi dalam menjaga amalan yaumiyah, serta kedekatan hubungan dengan Allah. Ya itulah yang menjadi pembeda!

pada akhirnya saya hanya bisa beristighfar banyak-banyak, sebanyak-banyaknya.

Minta ampun pada Allah, dan berdo’a untuk dijahui dari kesia-sian

karena siapa tahu, diantara setiap aktivitas kita yang sering kita sebut dakwah, kita belum dikaruniai olehNya “qaulan tsaqilan”.

Sehingga kata-kata yang keluar dari lisan kita hanyalah pepesan kosong. Indah didengar memang, tapi kosong, dan sama sekali tidak punya kekuatan untuk masuk kehati para mad’u pun para jundi.

“sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (73:5)

.:kepala dua:.

yups, hari tepat seperlima abad Allah menghembuskan nafas di tubuh ringkih ini…

hmmp, momen hari lahir ya, memang momen yang tepat untuk muhasabah…

masih banyak yang terlewat untuk dilakukan

masih banyak kewajiban yang menanti untuk diselesaikan

masih banyak hak-hak orang lain yang harus ditunaikan

masih banyak hak, tubuh, pikiran, dan jiwa, untuk terus dikembangkan kapasitasnya

hhh….

insya Allah, sambil terus memperbaiki diri, resolusi untuk tahun ini :

1. Nambah 2 juz Hafalan Quran

2. SAY “tingkat 2″

3. IPK diatas 3.2

4.Kerja Praktek di Waskita karya / PU

5.3 kelompok binaan fix

6.TOEFL 550

7.Buat buku tentang permentoringan… >.<!!!

8.bermanfaat, bermanfaat bagi orang lain…!!!

Semoga Allah mengampuni semua waktu yang tersia

Semoga Allah merahmati semua waktu yang berguna

Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (9:40)

Gamais ITB sebagai lembaga islam di kampus sudah seharusnya menjadi corong opini pemikiran islam. Meninggikan kalimat Allah, dan mensyiarkan agamaNya. Sementara pelayanan kampus berarti gamais, mampu melayani kebutuhan umat. Sehingga sasaran dakwah yang ingin menjadikan islam sebagai rahmatan lil alamin benar-benar bisa terwujud. Pelayanan disini tidak hanya meliputi pelayanan kegiatan keagamaan saja, tetapi juga pelayan setiap kegiatan, sehingga para objek dakwah mampu melaksanakan segala aktivitasnya dengan baik.

Syiar dan pelayanan kampus, juga memiliki misi yang sangat penting, untuk menebarkan pemikiran islam di kampus. Kampus adalah tempat dimana segala intelektual mahasiswa bergabung dan bertemu dengan berbagai macam pemikiran. Nah, disinilah peran syiar menjadi begitu besar. Syiar islam harus mampu menembus seluruh lapisan kampus jika tidak kita harus bersiap, menyambut generasi intelektual muda yang cemerlang, namun kering dari nilai-nilai islam. Syiar islam harus mampu membentengi mereka dari pemikiran yang rusak, dan menghancurkan. Syiar islam juga harus mampu membangun opini yang benar tentang islam dan nilai-nilainya. Hasil dari semua proses ini adalah salah satu dari tujuan dakwah di kampus itu sendiri : menyuplai alumni-alumni yang berafiliasi kepada islam.

Saat ini, syiar islam di kampus, masih sangat terbatas dan belum mengakar secara kuat di kampus. Secara geografis, bagian utara kampus ITB lebih terasa syiar islamnya karena memang dekat dengan Masjid Kampus Salman ITB. Akan tetapi bagaimana dengan teman-teman kita yang kuliah di timur jauh, yang jika pulang dan pergi kuliah selalu melewati gerbang belakang? Sampaikah syiar mereka kepada mereka? Akankah mereka datang ke acara-acara keislaman jika informasinya saja tidak sampai? Selain kondisi geografis, kondisi demografis juga sangat berpengaruh pada keefektifan syiar islam. Kita tahu, tidak mungkin menggunakan pendekatan yang sama, untuk berdakwah kepada mahasiswa Farmasi, dengan mahasiswa Tambang, misalnya. Disana terdapat kekhasan masing-masing dimana factor khas itu menjadi penentu berhasil atau tidaknya syiar yang kita lakukan.

Untuk itu, jika kita ingin syiar kampus yang mengakar, maka tidak bisa tidak, kekhasan ini harus diakomodir. Gamais saat ini, mencoba mengakomodir hal itu dengan membentuk lembaga dakwah di  tingkat program studi dan fakultas. Namun sayangnya, syiar yang dilakukan masih sangat normatif. Pengajian program studi (PARODI) yang biasa saja, bulletin fotokopian, juga mading. Belum ada terobosan yang meyakinkan. Kedepannya, saya bermimpi syiar islam di prodi dan fakultas dilaksanakan dengan professional, PARODI yang berkesan, tidak hanya banyak, mading dengan kualitas design yang oke, dan bulletin yang berwarna dengan design mantap. Kedepannya SPK tidak hanya memimpin sektor SPK di pusat, tetapi juga semua syiar di program studi dan fakultas.

Continue Reading »

Satu karya itu, mengalahkan seribu kata-kata

Tidak bisa dipungkiri bahwa karya lebih berbicara ketimbang kata. Dengan karya kita bisa mengabadikan diri kita dalam sejarah peradaban. Tidak ada kata-kata yang dibadikan dalam sejarah, selain kata-kata tersebut keluar dari lisan seorang yang berkarya besar.

Gamais, dengan divisi akpronya seharusnya mampu menjawab tantangan “karya” ini. Gamais harus menjadi organisasi yang produktif menghasilkan karya. Karya disini dalam cakupan yang luas, bisa berupa buku, blog, karya tulis, prestasi di lomba-lomba dan lain-lain. Dalam pembuatan karya memang sering sekali ditemui hambatan-hambatan, terutama yang datang dari diri sendiri. Sehingga diperlukan suatu komunitas dan “pesan-pesan” untuk terus membuat semangat itu tetap menyala. Tidak, tidak perlu membuat forum-forum baru, atau kelompok-kelompok baru untuk tetap menjaga semangat itu. Cukuplah kita bekerja sama dengan unit-unit kampus terkait untuk terus berkarya. Memberikan solusi bagi umat.

Adalah hal yang harus dijaga adalah keseimbangan antara amanah dakwah. Dan akademik disini, tentu saja termasuk amanah dakwah yang harus dijaga. Karena, amanah tersebut merupakan amanah asasi kita sebagai kaum intelektual muslim. Amanah yang tidak diberikan Allah kepada semua orang. Kinerja akademik ini juga termasuk dakwah kita. Dan itu harus terus kita jaga. Akpro disini memegang peranan penting dalam menjaga dan mengontrol kondisi akademik kader-kader dakwah. Bentuk-bentuk program kerja yang dilakukan bisa berupa : pendampingan akademik, dan info-info penyemangat dakwah akademik.

Gamais saat ini merupakan unit dengan perputaran uang terbesar di ITB. Dalam satu kepengurusan uang yang diputar bisa mencapai ratusan juta, bahkan tidak mustahil bisa mencapai 1 milyar. Dan sama sekali tidak dinafikkan bahwa untuk menjalankan dakwah, untuk menebarkan syiar islam, untuk membentuk kader-kader yang siap berkontribusi untuk umat, diperlukan ikhtiar yang tidak sedikit, pun dalam masalah dana.

“Lelaki perlu jihad dan jihad perlu dana”, itulah nasihat ulama mujahid , Syaikh Abdullah Azzam, yang kiranya mampu melecut kita semua. Saat ini kebanyakan lembaga dakwah kampus di Indonesia sangat terbiasa untuk mensiasati keterbatasan. Paradigma ini harus dirubah. Bukan lagi mensiasati keterbatasan tetapi menciptakan keberlimpahan. Adalah ironi ketika roda dakwah ini tidak mampu berputar hanya karena kekurangan dana. Atau roda dakwah ini tetap dipaksakan berputar, namun dengan kemasan seadanya. Adanya dana juga membuat LDK memiliki izzah, dan tidak menggantungkan sumber dana kegiatannya dari para donatur.

Kemandirian Lembaga Dakwah adalah suatu keniscayaan. Dan diperlukan usaha yang sungguh-sungguh, sifat professional, dan kejelian melihat peluang untuk mencari sumber-sumber dana LDK. Gamais di tahun 2010 pun tidak boleh lepas dari paradigma ini. Ada beberapa cara untuk mendapatkan dana dakwah yang terpikirkan oleh saya.

Pertama adalah meneruskan produk-produk yang sudah menahun kita jual. Seperti bundle soal, jaket angkatan, kaos fakultas, pin, jaket fakultas. Hal yang harus diperhatikan adalah semakin banyaknya pesaing dalam bisnis ini. Sehingga agar tetap menjadi market leader diperlukan inovasi-inovasi. Bundel soal terus diperbaiki content dan cara pendistribusiaannya. Usahakan sama sekali tidak ada salah ketik, dan kesalahan lainnya dalam proses produksi. Pendistribusiaanya bisa melalui PJ-PJ kelas seperti selama ini karena saya lihat sudah cukup baik. Terkait baju, kaos, jaket angkatan, fakultas, dan prodi, added value yang harus dimanfaatkan adalah kreativitas design,dan timing marketing ke kelas-kelas TPB.

Continue Reading »

“ulurkan tanganmu aku akan membaiatmu” pinta umar kepada orang yang sangat dikasihinya

“justru aku ingin membai’at mu” jawab abu bakar Ra

“engkau lebih utama dariku” tukas  umar

“engkau lebih kuat dariku” jawab abu bakar

“kekuatanku untukmu bergabung dengan keutamaanmu”

Umar menutup dialog dan sebuah generasi baru dimulai

Ya, sepeti itulah generasi pertama umat ini mencontohkan, bagaimana masyarakat islam memilih pemimpinnya. Memilih orang yang akan melayani dan menyelesaikan urusan-urusan mereka. Dan seberapa pentingkah memilih pemimpin dalam suatu masyarakat seperti itu? Cukuplah dengan membiarkan jasad Rasulullah terbaring tanpa dimakamkan terlebih dahulu sebelum terpilihnya pemimpin yang baru menjadi saksi.

Kini, disaat regenerasi kepemimpinan Keluarga Mahasiswa Islam ITB sedang dilaksanakan, marilah kita sejenak terpekur, menelusuri kembali bagaimana sosok-sosok pemimpin agung tersebut dipilih. Agar dapat menjadi contoh kepada kita, bagaimana seharusnya masyarakat muslim memilih pemimpinnya

  1. Abu Bakar : Diplomasi dan Aklamasi

Pemakaman jenazah Rasululla dengan sangat terpaksa harus ditunda. Tiga sahabat utama itu : Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah ibn Al Jarrah bergegas-gegas ke arah Saqifah Bani Sai’dah. Di balai pertemuan itu, orang-orang anshar berkumpul untuk memilih pengganti Rasulullah. Itu dia pemimpin yang telah mereka pilih, pemimpin Khazraj, Sa’ad ibn ‘Ubadah sedang terbaring menggigil demam di pojok ruangan.

Abu bakar seperti biasa, bicara dengan kalimat ringkas namun meyakinkan. Abu Bakr dengan nada kesyukuran yang khidmat menghargai pengabdian orang-orang Anshar untuk Islam, kesetiaan mereka pada Rasulullah, pembelaan dan pertolongan mereka yang tidak terhingga. Sekaligus juga Abu Bakar bicara tentang persoalan legitimasi. Apa yang telah ditinggalkan Rasulullah telah sedemikian luas, dan sungguh semua bangsa Arab hanya bisa menerima pemimpin dari Quraisy, pelindung dan pelayan Ka’bah sejak berabad-abad. Tentu sosok Abu Bakar sebagai juru bicara, memudahkan argument ini diterima oleh orang-orang Anshar. Teriakan “masing-masing punya pemimpin!! Kalian pilihlah pemimpin dan kami telah memilih Sa’ad!” yang semula bersiponggang luluh melihat ketulusan Abu Bakar.

Abu bakar mengakhiri pidatonya. “Wahai saudaraku-saudaraku Anshar” katanya. “ Tak ada seorangpun yang mengingkari ketinggian derajat kalian dalam agama dan keagungan pengorbanan kalian dalam islam. Kalian telah dipilih Allah untuk menolong agama dan rasulNya, kepada kalianlah Rasulullah diutusNya saat beliau hijrah, dan justru dari kalianlah mayoritas para sahabat Rasulullah dan para istri-istri beliau berasal. Posisi kalian adalah setelah As Sabiqunal Awwalun. Sungguh adil dan tepat sekiranya kami duduk sebagai Amir, maka kalian akan duduk sebagai Wazir. Kalian tidak akan terhambat dengan apa yang kalian rencanakan, dan kami takkan melakukan apapun sebelum berkonsultasi dengan kalian!”

Lalu Abu bakar menominasikan Umar dan Abu ‘Ubaidah untuk dibai’at. Tapi suasana menjadi begitu sendu. Dan terjadilah dialog seperti yang ada di awal tulisan. Hari itu, kaum muslimin memiliki seorang pemimpin baru. Dengan sebuah diplomasi dan aklamasi

  1. Umar : Lobi dan Amanat, dari yang tepercaya pada yang tepercaya

Menjelang wafat, abu bakar mulai berfikir tentang penggantinya. Sesekali ‘umar, yang ketika itu menjabat sebagai Qadhi, diminta untuk menggantikan mengimami shalat, seperti dulu saat Rasulullah sakit, dirinyalah yang diminta. Ini seperti sebuah promosi awal. Lalu satu per satu abu bakar bicara pada tokoh-tokoh sahabat.

“bukankah kau lihat ‘umar seseorang yang keras wahai Khalifah Rasulullah?” kata ‘Abdurrahman bin Auf ketika mendengar disebutnya nama Umar. “ya “ kata abu bakar. “ tapi tidakkah kau rasakan dia senantiasa mengimbangi posisiku, jika aku lembut maka, maka dia mengeraskan dan meyakinkan. JIka aku keras, dia melunakkan dan menyabarkanku?” Abdurrahman bin Auf menggangguk

Utsman, Ali, Az-Zubair dan hamper semua sahabat yang dihungi Abu Bakar setuju dengan atas pilihan sang Khalifah. Hanya Thalhah yang agak keras “Saat engkau masih bersama kami pun,” katanya, “ kami telah merasakan betapa kerasnya dia, Bagaimana nanti kalau kau sudah menghadap Allah? Apa jawabmu padaNya ketika tergugat telah meninggalkan kaum muslimin pada seseorang yang berperangai keras?”

“Dudukkan aku….!! Wahai Thalhah apakah kamu sedang menakutiku?”, kata Abu bakar dengan ekspresi gembira. “ Aku bersumpah, demi Allah jika aku menghadap Rabbku, akan kukatakan padaNya bahwa aku telah menetapkan atas makhluqNya seorang pemimpin yang terbaik diantara mereka. “ Abu bakar telah memutuskan. Dan didiktekanlah surat wasiatnya pada sekretaris Negara ustman bin Affan.

Ketika Umar datang dan sadar Apa yang terjadi, dia berseru, “aku tidak pernah menghajatkan posisi itu!!!” Abu Bakar tersenyum “benar saudaraku, tapi posisi itulah yang menghajatkanmu” Jendela rumah Abu bakar yang menghadap ke masjid nabawi terbuat dari tanah. Kesanalah abu bakar beringsut, membukanya dan menghadap khalayak yang menunggu kabar kondisi sakitnya. Setelah salam dan shalawat pada kekasihnya, ia berkata anggun, “Apakah kalian akan menerima dengan lapang dada seorang yang telah kupilih sebagai penggantiku?”

“Ya”, jawab khalayak itu

Stelah menjelaskan sedikit, beliau menyebut nama Umar dan berkata, “apakah ini cocok untuk kalian?”

“kami setuju!”

“Apakah kalian akan taat dan setia padanya?”

“Ya!” maka langit madinah cerah dengan arakan awan. Semua tahu, Abu bakar sangat bijak dalam memerintah, dan lebih dari pada itu, sangat bijak memilih pengganti.

  1. Utsman : Majelis Syuraa

Setelah tikaman subuh itu, umar harus terbaring, Ummu Kulstum binti ali, tersedu melihat keadaan suaminya. “kasihan engkau wahai ‘umar..!” ratapnya. Yah sang istri melihat sendiri, saat Umar diberi minum susu. Susu itu mengalir dari luka diperutnya. Bagitu juga sari buah, luka itu menjadi semakin perih.

Tetapi ia telah menunjuk 6 orang anggota majelis syura yang akan berembug tentang penggantinya. Ia telah merumuskan tatacara pemilihannya, yang bahkan paragraph terakhirnya berbunyi, “jika prosedur telah ditunaikan dan masih ada yang belum mau menerima keputusan syuraa diantara mereka, maka diizinkan untuk memenggal lehernya.” Seram. Khas Umar, dan memang begitulah seharusnya demi keutuhan ummat

Abu thalhah Al Anshary bersama 50 orang bersenjata lengkap sejak hari itu berjaga ketat di kediaman Aisyah yang bersahaja. Di dalam sana, Thalhah telah memberikan suaranya untuk ustman, Az-zubair memberikan suaranya untuk Ali, dan Sa’ad bin Abi Waqqash memberikan suaranya untuk Abdurrahman bin Auf. Abdurrahman berdiri, menyatakan bahwa ia siap memimpin dewan, tetapi menanggalkan amanah sebagai khalifah sejak awal. Maka diapun memulai tugasnya, berkonsultasi dengan para sahabat, para istri Rasulullah, para pemimpin ka bilah dan yang juga penting : kedua calon. Sementara yang lain dalam karantina, Abdurrahman telah melihat garis besarnya; Bani Hasyim mendukung Ali, sedangkan Bani Ummayyah mendukuk Ustman.

Hari itu masjid nabawi penuh sesak. Di mimbar, Abdurrahman bin auf duduk tepat diapit Ali dan Ustman. Mula-mula ia berkata sambil mengangkat tangan ali. “Saya mengambil sumpahmu dengan syarat mengikuti Kitabullah, sunnah RasulNya, dan teladan abu bakar serta Umar!”

“saya akan mengikuti Al-Quran, Sunnah Nabi, serta jalanku sendiri”. Demikian jawab ali hingga tiga kali.

Lalu, Abdurrahman bin auf, beralih ke ustman. Diucapkanlah pertanyaan yang sama, dan Ustman menjawab, “saya bersedia, Insya Allah”. Maka Ustman hari itu juga diba’at sebagai khalifah yang baru. Zaman lalu menyaksikan pemerintahan yang diisi karakter pemalu nan dermawan ; kasih sayang.

Continue Reading »

Older Posts »