anak tangga kedua

Hmmp, akhir-akhir ini banyak sekali bahasan terkait anak tangga kedua ini. Mungkin memang sudah saatnya. Berbicara tentang anak tangga kedua ini, ada beberapa poin yang ingin saya tekankan terutama untuk diri saya sendiri :

1. Jangan pernah, jangan sampai pernah menghabiskan hampir seluruh pikiran untuk persiapan menuju anak tangga kedua ini, ketika diri belum siap. Terlalu banyak membincangkannya, terlalu banyak mendiskusikannya, membuat status galau, atau apapun yang berhubungan dengan anak tangga kedua ini. Ketika pada akhirnya mencapai tahap untuk mempersiapkan diri, maka lakukan dengan niat yang benar. Dengan tingkah yang wajar, dan proporsional. Bersikaplah dewasa dan yakinlah bahwa persiapan ini benar-benar persiapan untuk benar-benar melangkah ke anak tangga kedua. Bukan hanya sekedar rasa ingin tahu.

2. Luruskan niat. Seorang ustadz pernah berkata, urusan melangkah ke anak tangga kedua ini, setengahnya merupakan urusan niat. Niat yang baik pada saat melangkah menuju anak tangga kedua ini akan memancar pada tingkah yang tidak neko-neko, menjahui kesia-sian serta tetap produktif dalam amal-amal dakwah islam. Sehingga dapatlah diharapkan bahwa dengan proses yang baik, anak tangga kedua ini benar2 bisa menjadi anak tangga kedua dalam dakwah dan kebermanfaatan dirinya bagi umat. Betapa banyak orang yang menganggap bahwa anak tangga kedua ini adalah segalanya. adalah hadiah yang diberikan Allah untuk setiap jerih payahnya. Bukan, sama sekali bukan ! Anak tangga kedua ini justru adalah tarbiyah dari Allah agar hamba-hambarnya dapat semakin dekat padanya. Memperbanyak peluang ibadah kepadaNya dan  Menyatukan dua potensi yang terserak, membuatnya melejit.

3. Selalu sertakan Allah dalam tiap prosesnya. Selalu sertakan Allah dalam tiap prosesnya. Ya, menapaki anak tangga kedua adalah salah satu keputusan besar yang harus dihadapi seseorang dalam hidupnya. Keputusan ini kebanyakan bahkan mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang. Maka yakinlah, hanya Allah yang paling tahu terhadap setiap urusan hambaNya. Bahwa ketika kita melibatkan Allah, maka sungguh Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kita !! yakinlah ketika kita memohon hanya kepada Allah pasangan anak tangga kedua yang terbaik, maka Allah akan memberikannya. Bahkan terkadang plus ditambah proses yang sering sekali dimudahkan oleh Allah.

4. Selalu sertakan orang-orang sholeh. Kita terkadang seringkali lupa dan tersalah jika sendirian. Maka kita tidak bisa menafikan kehadiran orang-orang sholeh dalam kehidupan kita. Apatah lagi dalam mengambil keputusan besar dalam hidup ini termasuk menapaki anak tangga kedua ini. Seringkali Allah memberikan petunjuk, kemantapan hati, untuk menapaki anak tangga kedua ini dari orang-orang sholeh disekitar kita. Dari teduh pandangan matanya, dari sinar cahaya wajahnya, atau bahkan dari seringai manis senyumnya. Ya mereka ada, maka bersamailah mereka.

Itu 4 hal yang ingin saya tekan kan, khususnya kepada diri saya sendiri. Dan ketika sudah tiba saatnya, maka pastikan langkahkan kaki ke anak tangga kedua tanpa tendensi apapun. Pasrah lah pada Allah. Kecenderungan itu oke, tapi biarkanlah Allah yang memutuskan yang terbaik bagi kita. Melangkah ke anak tangga kedua ini sama seperti rezeki, Allah telah menentukannya bagi kita. Dan berdo’alaj semoga Allah memberikannya sebagai rezeki yang baik bagi kita.

Maka kunci nya hanya satu. Yakinlah, yakinlah kepada Allah. Melangkah tanpa tendensi apapun. Hanya pasrah kepada Allah. Hanya pasrah bahwa yang saat ini kita lakukan semoga merupakan bagian dari langkah-langkah kita semakin mendekatkan diri kepadaNya. Tidak kurang dan tidak lebih. Ya Allah, semoga engkau mudahkan kami melangkah menuju anak tangga kedua.

training your right brain

one of my resolution in 2012 is to train my right brain which is weaker -according to my friend’s notes for me- than my left brain. Then i’m googling to search how to train my right brain. there is a simple way. just do your every day tasks, by your non-dominant hand – in my case, left hand.

now, i try to move mouse, do hand writing, or even  with my left hand. And you khow what !? it’s fun ^_^

suit

Kau tahu, saya baru saja menemukan fenomena kalau kejadian seperti suit itu bener-bener ada di dunia. Tapi bukan dalam konteks saling mengalahkan tetapi dalam konteks saling menguatkan dan berbagi inspirasi. Eh, sebelumnya tahu kan apa itu suit ? itu lho permainan tangan yang kita lakukan sejak kita sd dulu. Yang di indonesia disimbolkan dengan 3 perumpamaan untuk masing-masing jari tangan. Jempol yang berarti gajah, telunjuk yang berarti manusia, serta kelingking yang berarti semut. Ya, ketiga nya dalam permainan suit ini secara “aneh” saling mengalahkan. Manusia kalah sama gajah, karena kalau manusia diinjek gajah pasti mati kan (padahal ada gitu cerita gajah pernah injek manusia sampai mati *_*). Perumpumaan kedua lebih aneh semut kalah sama manusia karena manusia lebih besar dari semut dan bisa membunuh semut *_*. Nah kalau mengikuti logika, harusnya semut kalah juga sama gajah kan ? kan gajah lebih besar dari manusia, pasti bisa bunuh semut dengan lebih sadis (apa seeh). Yah tapi kenyataan tidak saudara-saudara, tetap saja gajah kalah sama semut. Karena kalau semut sudah masuk ke telinga gajah dan menggigit bagian dalam telinganya pasti tuh gajah akan kalah juga, karena udah ga bisa ngapa-ngapain.

haha, bahkan ketika menuliskan ini pun, saya  menyadari keanehan pengandaian ini.. tapi ga papalah bukan disitu sebenarnya inti dari tulisan ini. back to topic. Jadi seperti yang saya bilang di awal, saya juga menemukan bahwa dalam kehidupan dunia ini ternyata ada juga fenomena seperti suit, tapi bukan dalam konteks saling mengalahkan  tetapi dalam konteks saling menguatkan dan berbagi inspirasi.

Jadi ini cerita tentang 3 orang teman yang saling bersahabat dekat. Dekat sekali sampai satu sama lain saling kenal dengan sebenar-benarnya kenal.  Orang kedua sangat mengagumi orang pertama ini, sementara orang ketiga sangat mengagumi orang pertama, dan orang pertama sangat mengagumi orang ketiga… hahaha, persis seperti permainan suit tadi

ah sudah segitu aja, berhubung ini ditulis untuk melatih otak kanan saya (seperti yang seorang sahabat bilang, keknya otak kanan saya perlu dilatih). jadilah ini ditulis dengan spontanitas, tanpa ada kata yang dicek ulang apalagi dihapus untuk diganti diksinya. Sekian.

*haduh ga nemu, gambar suit ala indonesia, jadi pake gambar jankepon aja (suit ala jepang)

Cinta Rasa Peradaban

Kalau ada buku yang saya udah lama punya, kemudian baru dibaca sepenuh hati dan mencoba benar-benar memahami isinya dengan baik, mungkin “serial cinta” karya ust anis mata adalah salah satunya. Ya buku ini sudah saya punyai sejak saya tingkat 1 kuliah ! dan baru benar-benar dibaca saat ini. Hasilnya, saya terpana ! benar-benar terpana ! kalau ada buku dimana kayaknya setiap kalimatnya pengen saya garis bawahi, saya tandai, saya jadikan quote, keknya buku ini masuk ke dalam list ! keren banget lah isinya. Sesuai banget deskripsi yang ada di kata pengantar bukunya, merasai cinta dengan cita rasa peradaban.

dan utamanya buku ini, mengajarkan makna cinta dari sisi yang cukup komprehensif.  Jujur, saya belajar lebih banyak tentang “tangga kedua peradaban” dari buku ini dibandingkan dari buku lain. Dan artikel dari buku ini yang paling saya sukai adalah “Mari Belajar Mencintai”

Jika cinta pada semua jenisnya adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita. Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kualitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian yang kuat dan kapasitas yang besar yang mampu mencintai. Orang-orang lemah, yang setiap saat bisa kita saksikan disekitar kita, tidak akan pernah bisa mencintai. Bahkan untuk mencintai diri mereka sekalipun. Takdir mereka adalah menantikan cinta dan kasih sayang orang-orang kuat.

orang-orang kuat mencintai dengan segenap kesadarannya. Maka mereka terus menerus memproduksi kebajikan demi kebajikan. Sementara orang-orang lemah bahkan tidak memiki kesadaran untuk mencintai. Maka mereka terus mengkonsumsi kebajikan orang-orang kuat. Itu sebabnya orang-orang kuat dalam masyarakat merupakan faktor kohesi yang merekatkan masyarakat. Mereka merekatkan masyarakat dengan cinta dan kebajikan mereka. Makna inilah yang ditebarkan oleh Rasulullah SAW begitu beliau tiba di Madinah dan memulai kerja membangun negara baru itu : “wahai sekalian manusia, tebarkan salam, berikan makan, bangun sholat malam saat orang lain tertidur, niscaya kalian akan masuk syurga dengan damai”

Ini merupakan penjelasan dari keterampilan berikutnya. Bahwa untuk bisa mencintai, bahwa untuk menjadi pencinta sejati, kita harus mengembangkan kapasitas dan kepribadian kita. Cinta adalah pelajaran tentang bagaiman mengubah kepribadian kita menjadi lebih baik secara berkesinambungan, pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang produktif untuk bisa memberi, pelajaran tentang bagaimana menjadi orang kuat yang penyayang, pelajaran tentang bagaimana melimpahruahkan kebajikan abadi bagi penumbuhan kehidupan orang-orang di sekitar kita yang kadang berujung tanpa sedikit pun rasa terima kasih atau bahkan penolakan.

Ini bukan pelajaran teknik atau keterampilan mencintai seperti ketika belajar tentang teknik berkomunikasi dengan orang lain, atau bagaimana merebut hati seseorang untuk suatu hubungan cinta asmara. Bukan, sama sekali bukan tentang itu. Ini adlah pelajaran tentang bagaimana membangun kembali dasar-dasar kepribadian yang kokoh dan tangguh, yang memungkinkan kita mencintai secara sadar, bertangung jawab dan  bertindak produktif untuk membuktikan cinta itu dalam kenyataan. Dan dengan begitu cinta bukan saja berefek pada perbaikan berkesinambungan terhadap hubungan kemanusiaan kita, tapi juga terutama pada perbaikan kehidupan kita seluruhnya secara berkesinambungan.

Dan ini mungkin dan terbuka. Semua kita bisa mempelajarinya.  Alasannya sangat sederhana. Rasulullah bersabda ” Ilmu diperoleh dengan belajar. Kesabaran diperoleh dengan belajar menjadi sabar. Kesantunan diperoleh dengan belajar menjadi santun”. Ini menjelaskan bahwa disamping karakte-karakter bawaan yang melekat dalam diri kita sebagai warisan genetik, semua karakter lain dapat kita peroleh dengan mempelajari dan menerapkannya dalam kehidupan kita.

Begitu juga dengan cinta, begitu juga cinta. Semua kita bisa mencintai. Semua kita mungkin menjadi pecinta sejati. Asal kita mau belajar. Asal kita mau belajar mencintai.

Philosophical Elements in Transportation Planning

Lately, i’ve discussed with my friend – who is a mayoring in industrial design- about transportation planning. He concluded that, as a transportation engineer i had to consider about the value of human needs, esthetic factor, even ethics in transpotation planning. In his opinion, there was a lot of transportation’s policies that ignore these aspects, therefore they didn’t make a good success stories.

I’ve agreed with him, but, well, actually i didn’t catch the whole idea. :(

and, then, aha… i just got it when i read this at one of the book that explains transportation planning.

Philosophical Elements. Largerly neglected, these elements are essential to the development of an optional working plan. Without adequate consideration of the philosophy of the planning process, two mayor difilcuties may arise. First, there is no way of defining with any degree of certainty what is an optimal plan and a bad plan. Second, a plan developed in isolation of community values will face substantial, if not overwhelming, obstacles to successful implementation.

there is four philosophical elements : Value, Goals, Objectives, and Criteria

Value : the underlying basic qualities upon which the etchics, morals, and preferences of society, groups, and individual are based. At least in the medium term these are irreducible and do not change

Goals : The idealized desired end at which the planning process is aimed. Proposals within the plan are aimed at moving society towards these ideal goals.

Objectives : Measurable operational statements of individual goals, defined without reference to attainability in terms of budgetary or other resource constrains.

Criteria : Indices of measurement capable of defining the degree to which an objective or goal has been attained

Transpontation planning process is a means of planning the use of resources to attain community goals and objective. In this context, the term community is used in its broadest sense, ranging from the international or national community down to a local group of individuals such as a neighborhood.

Goals and objectives of the transportation plan are set by the planner within the framework of the underlying and unchanging values of society. At the same time, criteria are established that can be used in the evaluation stage of operational planning. These criteria are dependent not only on the goals and objectives to be achieved, but on the form of the modelling process.

Insinyur Transportasi

frame kita tentang sipil itu masih struktur banget, da frame tentang transport itu masih jalan banget #kutip pernyataan pak bona. Sedangkan disini transport itu berkembang hingga kajian psikologinya. Ada teman di lab behavior pengendara yang lebih condong melihat sisi psikologi dalam pengambilan keputusan bertransportasi.

-balasan status seorang kakak kelas yang sekarang ada di Jepang belajar transportasi

ya, pernyataan yang tepat banget. Bagi saya sampai saat ini pendidikan teknik sipil di Indonesia (khususnya ITB), sangat berorientasi terhadap pembangunan gedung. Hal ini bisa dilihat dari dominannya SKS wajib tentang struktur, terutama  struktur gedung dalam kurikulum S1 teknik sipil. Susunan mata kuliah pilihan yang ditawarkan pun demikian. Pilihan paling banyak adalah mata kuliah pilihan struktur.

Saya sebagai pengambil sub-jur transportasi, mengalami sendiri, minimnya mata kuliah pilihan yang bisa diambil Kalaupun ada, semuanya rata-rata berbicara tentang jalan. Ada 3 mata kuliah pilihan dan 2 diantaranya tentang jalan : pemeliharaan struktur perkerasan jalan, dan design struktur perkerasan jalan. 1 mata kuliah lainnya pun tidak lepas dari rekayasa jalan, walaupun dimata kuliah yang satu ini ada sisi “esensi” dari rekayasa transportasi yang coba diperkenalkan.

Hal ini bukan berarti susunan mata kuliah dan kurikulum ini jelek. Hanya bagi saya pribadi, saya terkadang menjadi terlalu sempit dalam memandang dunia teknik sipil. Mata saya tentang esensi dari rekayasa transportasi baru sedikit terbuka ketika saya mengerjakan tugas akhir saya. Disana saya mengambil tema yang tidak biasa dari kebanyakan teman-teman. Tema yang saya ambil lebih kepada perilaku perjalanan.

Dari tugas akhir yang saya kerjakan, saya jadi mengira-ngira sendiri, sebenarnya seluas apa dunia yang hendak saya masuki ini (rekayasa transportasi). Sampai saat ini saya merasa ada 4 bagian besar dari rekasaya transportasi : ilmu rekayasa struktur infrastruktur transportasi (ini lebih banyak ngambil ilmu dari sipil), ilmu tentang antrian, traffic flow, micro modelling, strategi optimasi (ini lebih deket ke ilmu management dan optimasi khas anak Teknik Industri), ilmu tenrang perilaku pengendara, pemilihan moda (ini lebih deket ke ilmu psikologi) serta ilmu perencanaan tata wilayah (ini lebih dekat ke planologi). Menurut saya 4 cabang ilmu itu yang membentuk sebuah ilmu baru tentang rekayasa transportasi.

Karena itu, walaupun sebagian besar universitas di dunia memasukkan rekayasa transportasi dalam jurusan / program studi teknik sipil, kajian sebenarnya lebih luas dan menyangkup beragam ilmu. Bahkan di beberapa negara transportasi memang dijadikan jurusan sendiri, melahirkan bukan hanya sekedar insinyur sipil, tetapi seorang transportasi !!

berkurang usia

hari ini menurut penanggalan masehi, umur saya menjadi 22 tahun. Suatu jumlah umur yang boleh dikatakan sudah cukup tua dan harusnya sudah cukup untuk dibilang dewasa.  Alhamduillah, diumur saya yang 22, saya sudah menamatkan jenjang pendidikan s1 dan sekarang sedang mencari tantangan-tantangan kehidupan berikutnya.

semoga semakin bisa terobsesi dengan obsesi kebaikan. seperti al fatih yang menjadi bening dengan obsesi tujuh abad umat muslim diusianya yang ke 21. semakin dapat bermanfaat buat sebanyak-banyaknya orang. semakin disayang Allah (ini do’a yang sangat saya suka ^^) dan semakin dapat menghayati : “wahai JIWA, jika SYURGA sudah di DEPAN MATA, mengapa engkau ragu meraihnya !?”

my personality : Determined Realist

Determined Realists like you want to bear responsibility and welcome challenges. You are a stable and reliable person. External contacts are very important to you; you mix well and you are very active. You are an excellent organiser and you are very happy when things are done correctly and punctually; you can quickly react impatiently if others are not as conscientious, orderly and dutiful as you are. You prefer structured work which produces visible results quickly to abstract, long-drawn-out processes. Determined Realists have no problem with routine as long as it serves efficiency. However, you very much dislike unexpected and unpredictable occurrences which mess up your careful plans. Once you have committed yourself to a cause you do this with dedication and you are willing to make considerable sacrifices for it.

Determined Realists do not avoid conflicts and criticism but face up to them and look for solutions. As you have a keen eye for the errors and shortcomings of others and you are often quick at expressing criticism, you sometimes rub people up the wrong way – especially when you lose your temper and jump to conclusions. Due to your marked sense of justice you are quickly willing to correct yourself and never take offence if someone speaks to you frankly. Determined Realists like you are often found in executive positions as you combine commitment, competence and the ability to assert yourself. In your spare time, you also accept responsibility in clubs and other institutions.

As a Determined Realist, you are one of the extroverted personality types. You enjoy working in a team as a colleague or a team leader.Because you have an outgoing nature, you approach others easily and openly; working in solitude by yourself would be punishment for you. You know how to appreciate a harmonic working climate, but the relationship to your colleagues is not as important to you as to some of the other personality types. For you, the task always comes first and your colleagues and/or superiors are second. As long as everybody is working as disciplined and determined as you are, everything is just fine.

However, if you sense that the work is suffering from irrelevant disputes or private matters that have nothing to do with the job, you have no problem expressing your criticism, and making your team toe the line. It would never occur to you to sacrifice a good result in your work on the altar of personal moods, or in favor of a conflict free environment. On the other hand, you are one of the personality types who is best at handling criticism, and swallow negative feedback without brooding or sink into depression. Consequently, you also can hold your ground in professions where the climate is a little rougher and more competition oriented.

You are an excellent organizer, and a genius at planning and maintaining a workflow that is precise and on time. You enjoy dealing with details and facts, developing rules and guidelines, and establishing standards. Here, your natural sense for systematic and love of order prove to be advantageous; as well as your acute aptitude to see the most efficient of all possible approaches. Where your work is concerned, “reliability” is your second name. You have a real problem leaving things to chance, and you hate nothing more than when something unexpected happens, thus throwing your carefully laid plans into chaos without warning. When a project you conceived is implemented without any hiccups and is brought to a good end, this is your greatest joy.

 

taken from : http://www.ipersonic.com/type/DR.html

Final Project : Abstract

Bandung, as the city both central of goverment and economic of East Java province has significant influence in regional economic growth. Meanwhile, Cirebon which is the city connects East and Central Java province on North-Road has also important role. With significant role each city holds,  its general that the movement within two cities is quite high. In order to accomadate this high movement between two cities, the goverment   plans to build a new mode: High Speed Train.

Naturally,  new  mode has affects to passangers movement when they have to choose what mode must be taken. The existence of  new mode makes switching phenomenon  in passaanger’s selection of mode. This swicting mode’s phenomenon will try to be modelled by using Stated Preferance technique. The end result of this analisys is a model equation to predict the switching passangers that occur form one’s mode to another mode.

The resulting model equation is in the form of utility equation.  This equation takes linier equation form with five atributes that influences model : safety, travel time, fare, headway, and comfort. From the five atributes, travel time and fare is sensitive atributes, while headway is not-sensitive atribute.

Keywords : Passangers Transfer  Mode, High Speed Train, Stated Preferance Technique, Utility Equation

Memaknai Kembali Pertemuan Tarbawi Kita

Ikhwah fillah, alhamdulillah saat ini Allah masih memberikan rahmat kepada kita, dengan hidayah iman, islam, serta dakwah dan tarbiyah. Sungguh nikmat iman dan islam, apatah lagi nikmat dakwah dan tarbiyah bukanlah nikmat yang kemudian Allah berikan kepada seluruh hambaNya. Diantara sekian banyak manusia di muka bumi ini, hanya sebagian yang muslim. Diantara yang muslim tersebut, hanya sebagian lagi yang mengenal islam dengan utuh. Diantara yang mengenal islam dengan utuh tersebut, hanya sebagian lagi yang diberikan kesempatan untuk menjadi jundi Allah, mengenal dakwah dan tarbiyah islamiyah. Maka bersyukurlah, bahwa kita masih diberikan nikmat yang luar biasa ini.

Ikhwah fillah, salah satu hal yang membuat dakwah ini mengalami kerapuhan adalah lemahnya tarbiyah islamiyah diantara para aktivis dakwah. Ini adalah bahaya laten yang mengancam gerakan secara nyata, dan menimbulkan efek yang permanen.  Lemahnya tarbiyah mengancam gerakan tidak dengan tiba-tiba. Ia seperti virus yang melumpuhkan sistem kekebalan sedikit demi sedikit. Bahayanya dirasakan tetapi tidak langsung dan berlahan-lahan. Hal inilah yang membuat banyak aktivis dakwah lengah terhadap bahaya yang satu ini.

Padahal sistem tarbiyah ini dirancang tidak dengan main-main. Ia adalah cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (berupa kata-kata), maupun tidak langsung (berupa keteladanan, sesuai dengan sistem dan perangkatnya yang khas) untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik, begitulah ustadz al abdul halim mahmud mengingatkan.  Pada saat ini alhamdulillah, perangkat-perangkat tarbiyah sudah semakin lengkap. Di lingkungan kampus perangkat-perangkat yang mencakup : halaqah, mabit/jalasah ruhiyah, mukhayyam, daurah dan perangkat-perangkat lainnya, rutin sudah dilaksanakan. Akan tetapi sudah benarkah pemaknaan kita akan setiap pertemuan tarbawi tersebut !?

Ikhwah fillah yang semoga selalu dalam rahmat dan kasih sayang-Nya. Saat ini banyak sekali ditemukan fenomena bahwa agenda-agenda tarbawi tidak lagi menjadi sesuatu yang dirindukan. Ianya ada tetapi miskin ruh dan semangat. Peserta yang datang hanya sekedar duduk, mendengarkan, untuk kemudian pulang. Tidak ada “oleh-oleh” penyegaran jiwa, pengetahuan baru, dan semangat yang bergejolak setelah datang pada agenda-agenda tarbawi. Akibatnya agenda tarbawi sepi peminat, dan lemah semangat.

Melihat fenomena yang demikian, izinkanlah saya berbagi nasehat dari masa lalu. Nasehat yang semoga menyegarkan kembali pemaknaan kita terhadap agenda-agenda tarbawi. Berikut adalah salah satu ceramah Syaikh Hasan Al-Banna, tentang hakikat pertemuan tarbawi.  Bacalah !! semoga bisa menjadi pengingat bagi kita akan hakikat agenda-agenda tarbawi yang kita laksanakan. Beliau memulai ceramahnya dengan salam dan kemudian melanjutkan dengan hadist Rasulullah SAW :

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca dan mempelajari kitab Allah secara bersama-sama, kecuali mereka akan diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan disebut Allah di hadapan para malaikat di sisiNya. Barang siapa  lambat dalam beramal, nasabnya tidak dapat menyempurnakannya”

Wahai akhi, setiap kaum yang berkumpul di tempat mulia, membaca dan mempelajari kitab Allah bersama-sama niscaya Allah SWT meliputi mereka, ketenangan dari sisi Allah turun kepada mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisiNya.

Ikhwan sekalian, saya ingin memberitahu anda tentang perasaan yang saya rasakan dan tentang apa yang seharusnya dilakukan, karena tujuan kajian ini bukanlah sekedar untuk mendapatkan informasi ilmiah atau ruhiyah semata. Ikhwan sekalian dari pertemuan ini saya tidak bermaksud mengemukakan banyak hakikat ilmiah kepada anda semua agar anda bisa mengerti dan tidak bermaksud mempengaruhi jiwa anda semua, karena pada akhirnya pengaruh itu pasti muncul pada siapa saja yang mendengarkan dan merenungkan kitab Allah SWT. Saya tidak bermaksud mewujudkan kedua hal ini semata, tetapi saya bermaksud mendapatkan manfaat nyata , yaitu agar perjumpaan kita dalam kajian ini bisa dijadikan sarana untuk saling mengenal, menjalin hubungan, agar sebagian akrab dengan sebagian yang lain dan sebagian kita berbahagia berjumpa dengan sebagian yang lain. Sehingga jiwa kita saling akrab, hati saling bertaut, pikiran kita saling mengasah dan agar dalam kajian dan pertemuan ini kita bisa terus-menerus mengkaji banyak  atau sedikit dari aspek-aspek ilmiah yang berkaitan dengan diri kita.

Ikhwan tercinta, dengan pertemuan ini saya ingin membuka kesempatan untuk saling memahami dan mengenal, maka hendaklah anda semua berusaha mewujudkannya. Percayalah kepada saya, bahwa saya merindukan kajian ini, sekalipun kadang-kadang saya tidak punya hasrat untuk berbicara, tetapi mungkin saat berlangsungnya acara kajian ini adalah saat jiwa ini bersih. Barangkali jiwa ini bisa berpaling dan mengendur, tetapi percayalah kepada saya, ikhwan sekalian, bahwa saya merindukan saat ini, di hari ini, dengan kerinduan yang luar biasa. Saya menunggu-nunggu saatnya tiba. Bertanya dan saling memahami adalah perbuatan yang pahalanya lebih besar di sisi Allah daripada belajar. Nabi kita pernah bersabda :

Kalian tidak akan masuk syurga sehingga kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling cinta

Seorang mukmin adalah orang yang berhati nurani, berperasaan dan hidup. Hatinya kaya raya. Wahai akhi seorang mukmin adalah seorang yang lemah lembut dan ramah dimanapun ia berada. Kemanakah curahan hati orang-orang yang beriman ini diarahkan ??

Allah SWT telah menjadikan sasaran dari curahan hati ini untuk pertama kali menuju dzat-Nya, kemudian kepada RasulNya, lalu kepada kebaikan dan kemudian kepada orang-orang yang beriman. Inilah tempat-tempat yang harus dijadikan sasaran curahan hari seorang mukmin. Kita harus senantiasa mengupayakan tegaknya cinta kepada Allah, dan cinta kepada RasulNya. Mengupayakan kebaikan, serta mencari kawan, saudara dan orang dicintai karena Allah.

Saya kembali ingin menegaskan, ikhwan sekalian, bahwa kajian kita tentang kitab Allah SWT dimaksudkan agar hati seorang mukmin berorientasi kepadanya, agar terjadi hubungan yang sejati antara hati yang satu dengan hati yang lain, dan antara hati orang-orang yang beriman.

Wahai akhi, ketika hati berhasil mengetahui rahasia-rahasia kitab Allah yang sebelumnya tidak pernah  disingkapnya dan berhasil mencapai ilmu yang bermanfaat, yang jauh dari sikap berlebihan orang-orang sufi atau perdebatan para ahli debat, maka ketika itu wahai akhi, Allah mengkaruniakan kepada anda pemahaman yang paling mendalam, tasawuf yang paling bersih, serta tauhid yang paling luhur dan tinggi.

Tujuan pertemuan kita ini bukanlah menyerap ilmu semata, tetapi juga untuk mengikatkan hati kita kepada kitab Allah. Yakinlah bahwa Nabi kita SAW mendidik generasi yang sempurna ini tidak dengan banyaknya ilmu dan pengetahuan, tetapi dengan membersihkan hati dan jiwa mereka, sehingga mereka menjalin hubungan dengan Al-Mala’ul A’la dan Allah memberikan hikmah kepada mereka. “Dan barang siapa dikaruniakan hikmah, maka sungguh ia telah diberi banyak kebaikan (QS 2 : 269)

Ikhwan sekalian nabi SAW tidak mempunyai kurikulum selain al-Quran, tidak mempunyai lembaga pendidikan selain masjid. Murid-murid beliau adalah abu bakar, umar, ustman, ali, dan para sahabat beliau yang lain, yang setara dengan mereka. Apakah anda pernah melihat lembaga pendidikan lain yang lebih bersih dan lebih baik daripada lembaga beliau ini ? yang didalamnya para siswa duduk dihamparan kerikil; universitas mereka beratapkan pelepah kurma dimana hujan yang turun bisa membasahi tubuh mereka ; kurikulum mereka adalah al –Quran dan mereka senantiasa menunggu datangnya dari langit.

Dari lembaga pendidikan ini, ikhwan sekalian, telah diuluskan guru-guru paling sempurna yang pernah dikenal oleh dunia, dalam segala bidang keutamaan manusiawi. Penggemblengan dan pendidikan ini hanya dilaksanakan berdasarkan kitab Allah SWT yang tidak dapat disentuh oleh kebatilan, baik dari muka maupun belakangnya.

Ikhwan sekalian, alangkah perlunya kita kepada sebuah universitas semacam universitas beliau ini, mimbar sebagaimana mimbar Rasulullah SAW yang di dalamnya rahmat turun, ayat-ayat dibacakan cahaya rabbul alamin dipancarkan. Dari situ dilahirkan para guru, bahkan mahaguru. Betapa perlunya kita menjalin hubungan yang sungguh-sungguh dan terus menerus dengan Al-Quranul Karim.  Betapa perlunya kita memahami metode yang dipahami oleh para sahabat Rasulullah ini.

Saya senang mengulang pernyataan ini, agar tidak dipahami bahwa kita bermaksud mengadakan perdebatan . Yang menjadi tujuan kita adalah agar kita mengerti bagaimana kita mengarahkan pandangan tentang kitab Allah SWT.

Demikianlah ikhwan sekalian…

Begitulah yang bisa kita baca dalam rekaman Syaikh Hasan Al Banna dalam salah satu pertemuannya. Disana kita bisa menangkap semangat bahwa agenda-agenda tarbawi yang kita kelola ataupun yang kita lakukan jauh dari kesan formalitas. Bagaimana jiwa yang bercahaya dan kehangatannya melimpah ruah dapat dibentuk dalam forum formalitas yang beku !?

Akhir kata, marilah sama-sama kita renungi hakikat dari tarbiyah islamiyah sedang kita jalani ini. Pahami hakikat dari setiap perangkat yang ada. Dan berusahalah untuk selalu menghidupkan forum-forum tarbawi, baik yang kita kelola maupun yang kita terlibat sebagai peserta di dalamnya.

Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan kita Rasulullah SAW.