“ulurkan tanganmu aku akan membaiatmu” pinta umar kepada orang yang sangat dikasihinya
“justru aku ingin membai’at mu” jawab abu bakar Ra
“engkau lebih utama dariku” tukas umar
“engkau lebih kuat dariku” jawab abu bakar
“kekuatanku untukmu bergabung dengan keutamaanmu”
Umar menutup dialog dan sebuah generasi baru dimulai
Ya, sepeti itulah generasi pertama umat ini mencontohkan, bagaimana masyarakat islam memilih pemimpinnya. Memilih orang yang akan melayani dan menyelesaikan urusan-urusan mereka. Dan seberapa pentingkah memilih pemimpin dalam suatu masyarakat seperti itu? Cukuplah dengan membiarkan jasad Rasulullah terbaring tanpa dimakamkan terlebih dahulu sebelum terpilihnya pemimpin yang baru menjadi saksi.
Kini, disaat regenerasi kepemimpinan Keluarga Mahasiswa Islam ITB sedang dilaksanakan, marilah kita sejenak terpekur, menelusuri kembali bagaimana sosok-sosok pemimpin agung tersebut dipilih. Agar dapat menjadi contoh kepada kita, bagaimana seharusnya masyarakat muslim memilih pemimpinnya
- Abu Bakar : Diplomasi dan Aklamasi
Pemakaman jenazah Rasululla dengan sangat terpaksa harus ditunda. Tiga sahabat utama itu : Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah ibn Al Jarrah bergegas-gegas ke arah Saqifah Bani Sai’dah. Di balai pertemuan itu, orang-orang anshar berkumpul untuk memilih pengganti Rasulullah. Itu dia pemimpin yang telah mereka pilih, pemimpin Khazraj, Sa’ad ibn ‘Ubadah sedang terbaring menggigil demam di pojok ruangan.
Abu bakar seperti biasa, bicara dengan kalimat ringkas namun meyakinkan. Abu Bakr dengan nada kesyukuran yang khidmat menghargai pengabdian orang-orang Anshar untuk Islam, kesetiaan mereka pada Rasulullah, pembelaan dan pertolongan mereka yang tidak terhingga. Sekaligus juga Abu Bakar bicara tentang persoalan legitimasi. Apa yang telah ditinggalkan Rasulullah telah sedemikian luas, dan sungguh semua bangsa Arab hanya bisa menerima pemimpin dari Quraisy, pelindung dan pelayan Ka’bah sejak berabad-abad. Tentu sosok Abu Bakar sebagai juru bicara, memudahkan argument ini diterima oleh orang-orang Anshar. Teriakan “masing-masing punya pemimpin!! Kalian pilihlah pemimpin dan kami telah memilih Sa’ad!” yang semula bersiponggang luluh melihat ketulusan Abu Bakar.
Abu bakar mengakhiri pidatonya. “Wahai saudaraku-saudaraku Anshar” katanya. “ Tak ada seorangpun yang mengingkari ketinggian derajat kalian dalam agama dan keagungan pengorbanan kalian dalam islam. Kalian telah dipilih Allah untuk menolong agama dan rasulNya, kepada kalianlah Rasulullah diutusNya saat beliau hijrah, dan justru dari kalianlah mayoritas para sahabat Rasulullah dan para istri-istri beliau berasal. Posisi kalian adalah setelah As Sabiqunal Awwalun. Sungguh adil dan tepat sekiranya kami duduk sebagai Amir, maka kalian akan duduk sebagai Wazir. Kalian tidak akan terhambat dengan apa yang kalian rencanakan, dan kami takkan melakukan apapun sebelum berkonsultasi dengan kalian!”
Lalu Abu bakar menominasikan Umar dan Abu ‘Ubaidah untuk dibai’at. Tapi suasana menjadi begitu sendu. Dan terjadilah dialog seperti yang ada di awal tulisan. Hari itu, kaum muslimin memiliki seorang pemimpin baru. Dengan sebuah diplomasi dan aklamasi
- Umar : Lobi dan Amanat, dari yang tepercaya pada yang tepercaya
Menjelang wafat, abu bakar mulai berfikir tentang penggantinya. Sesekali ‘umar, yang ketika itu menjabat sebagai Qadhi, diminta untuk menggantikan mengimami shalat, seperti dulu saat Rasulullah sakit, dirinyalah yang diminta. Ini seperti sebuah promosi awal. Lalu satu per satu abu bakar bicara pada tokoh-tokoh sahabat.
“bukankah kau lihat ‘umar seseorang yang keras wahai Khalifah Rasulullah?” kata ‘Abdurrahman bin Auf ketika mendengar disebutnya nama Umar. “ya “ kata abu bakar. “ tapi tidakkah kau rasakan dia senantiasa mengimbangi posisiku, jika aku lembut maka, maka dia mengeraskan dan meyakinkan. JIka aku keras, dia melunakkan dan menyabarkanku?” Abdurrahman bin Auf menggangguk
Utsman, Ali, Az-Zubair dan hamper semua sahabat yang dihungi Abu Bakar setuju dengan atas pilihan sang Khalifah. Hanya Thalhah yang agak keras “Saat engkau masih bersama kami pun,” katanya, “ kami telah merasakan betapa kerasnya dia, Bagaimana nanti kalau kau sudah menghadap Allah? Apa jawabmu padaNya ketika tergugat telah meninggalkan kaum muslimin pada seseorang yang berperangai keras?”
“Dudukkan aku….!! Wahai Thalhah apakah kamu sedang menakutiku?”, kata Abu bakar dengan ekspresi gembira. “ Aku bersumpah, demi Allah jika aku menghadap Rabbku, akan kukatakan padaNya bahwa aku telah menetapkan atas makhluqNya seorang pemimpin yang terbaik diantara mereka. “ Abu bakar telah memutuskan. Dan didiktekanlah surat wasiatnya pada sekretaris Negara ustman bin Affan.
Ketika Umar datang dan sadar Apa yang terjadi, dia berseru, “aku tidak pernah menghajatkan posisi itu!!!” Abu Bakar tersenyum “benar saudaraku, tapi posisi itulah yang menghajatkanmu” Jendela rumah Abu bakar yang menghadap ke masjid nabawi terbuat dari tanah. Kesanalah abu bakar beringsut, membukanya dan menghadap khalayak yang menunggu kabar kondisi sakitnya. Setelah salam dan shalawat pada kekasihnya, ia berkata anggun, “Apakah kalian akan menerima dengan lapang dada seorang yang telah kupilih sebagai penggantiku?”
“Ya”, jawab khalayak itu
Stelah menjelaskan sedikit, beliau menyebut nama Umar dan berkata, “apakah ini cocok untuk kalian?”
“kami setuju!”
“Apakah kalian akan taat dan setia padanya?”
“Ya!” maka langit madinah cerah dengan arakan awan. Semua tahu, Abu bakar sangat bijak dalam memerintah, dan lebih dari pada itu, sangat bijak memilih pengganti.
- Utsman : Majelis Syuraa
Setelah tikaman subuh itu, umar harus terbaring, Ummu Kulstum binti ali, tersedu melihat keadaan suaminya. “kasihan engkau wahai ‘umar..!” ratapnya. Yah sang istri melihat sendiri, saat Umar diberi minum susu. Susu itu mengalir dari luka diperutnya. Bagitu juga sari buah, luka itu menjadi semakin perih.
Tetapi ia telah menunjuk 6 orang anggota majelis syura yang akan berembug tentang penggantinya. Ia telah merumuskan tatacara pemilihannya, yang bahkan paragraph terakhirnya berbunyi, “jika prosedur telah ditunaikan dan masih ada yang belum mau menerima keputusan syuraa diantara mereka, maka diizinkan untuk memenggal lehernya.” Seram. Khas Umar, dan memang begitulah seharusnya demi keutuhan ummat
Abu thalhah Al Anshary bersama 50 orang bersenjata lengkap sejak hari itu berjaga ketat di kediaman Aisyah yang bersahaja. Di dalam sana, Thalhah telah memberikan suaranya untuk ustman, Az-zubair memberikan suaranya untuk Ali, dan Sa’ad bin Abi Waqqash memberikan suaranya untuk Abdurrahman bin Auf. Abdurrahman berdiri, menyatakan bahwa ia siap memimpin dewan, tetapi menanggalkan amanah sebagai khalifah sejak awal. Maka diapun memulai tugasnya, berkonsultasi dengan para sahabat, para istri Rasulullah, para pemimpin ka bilah dan yang juga penting : kedua calon. Sementara yang lain dalam karantina, Abdurrahman telah melihat garis besarnya; Bani Hasyim mendukung Ali, sedangkan Bani Ummayyah mendukuk Ustman.
Hari itu masjid nabawi penuh sesak. Di mimbar, Abdurrahman bin auf duduk tepat diapit Ali dan Ustman. Mula-mula ia berkata sambil mengangkat tangan ali. “Saya mengambil sumpahmu dengan syarat mengikuti Kitabullah, sunnah RasulNya, dan teladan abu bakar serta Umar!”
“saya akan mengikuti Al-Quran, Sunnah Nabi, serta jalanku sendiri”. Demikian jawab ali hingga tiga kali.
Lalu, Abdurrahman bin auf, beralih ke ustman. Diucapkanlah pertanyaan yang sama, dan Ustman menjawab, “saya bersedia, Insya Allah”. Maka Ustman hari itu juga diba’at sebagai khalifah yang baru. Zaman lalu menyaksikan pemerintahan yang diisi karakter pemalu nan dermawan ; kasih sayang.
Continue Reading »