FAQ Fiqh #1 Tentang wudhu

Berikut pertanyaan-pertanyaan seputar masalah wudhu dan penjelasannya…

1. Air apa saja yang bisa digunakan untuk berwudhu?

Air yang suci dan mensucikan. Artinya air tersebut suci dan bisa menyucikan benda selainya. Yang termasuk dalam air ini adalah air laut, air hujan, salju, es, dan embun. Selain itu air bekas (musta’mal) juga bisa dipakai. Air bekas yang bisa dipakai untuk berwudhu adalah air bekas manusia, sisa minuman binatang yang boleh dimakan dagingnya, sisa minuman bagal, kedelai, binatang, dan burung buas, serta kucing.

Sementara air yang telah bercampur dengan barang yang suci seperti sabun, lumut, tepung sifatnya adalah suci dan mensucikan selama kemutlakkannya masih terpelihara. Yang dimaksud kemutlakan disini adalah selama warna, rasa dan baunya belum berubah maka air tersebut masih disebut air mutlak. Sementara bila kemutlakannya telah berubah maka sifatnya bukan lagi suci dan mensucikan tetapi hanya suci, dalam artian air seperti ini tidak dapat dipakai untuk berwudhu.

Hukum yang sama juga berlaku bagi air yang tercampur barang najis, selama kemutlakannya tidak berubah (baik rasa, bau, maupun warnanya) maka para ulama sepakat bahwa air tersebut suci dan mensucikan dan dapat dipakai berwudhu. Namun bila najis itu telah mengubah salah satu dari rasa, warna atau baunya , maka air tersebut tidak dapat dipakai bersuci menurut kesepakatan para ulama.

2. Standar minimal berwudhu yang benar bagaimana sih?

Yang jelas, karena wudhu adalah perkara ibadah yang dalam pelaksanaannya harus ada dalil, maka saya menghimpun fardhu wudhu yang harus dilaksanakan dan beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh orang awam seputar wudhu.

Fardhu pertama adalah niat. Niat adalah amalan hati dan tidak ada sangkut pautnya dengan lisan. Jadi yang harus diperhatikan dalam niat tidak diucapkan karena niat adalah kemauan yang tertuju untuk melakukan suatu perbuatan.

Fardhu kedua adalah membasuh muka. Batas muka adalah puncak kening (tempat tumbuhnya rambut) sampai dagu, sedangkan lebarnya adalah dari pinggir telinga kanan samapi pinggir telinga kiri lagi. Kesalahan yang sering dilakukan adalah, tidak dibasuhnya semua bagian muka ini. Hanya dari mata ke bawah atau tidak sampai pinggir batas telinga.

Fardhu ketiga adalah membasuh kedua tangan hingga siku. Hal yang harus diperhatikan adalah pertama bahwa siku wajib dibasuh. Sering kita lihat yang dibasuh tidak sampai siku, tetapi hanya sampai lengan bagian atas. Hati-hati sebab tidak ada keterangan lain bahwa nabi pernah meninggalkannya. Kedua kita diperintahkan untuk membasuh bukan menyapu. Perbedaan yang paling jelas adalah dari jumlah air yang digunakan. Membasuh artinya air yang mengenai tangan sampai siku harus merupakan air yang dialirkan bukan hanya ‘basah’ di tepak tangan. Hal ini sering dilakukan oleh orang awam dan merupakan kesalahan yang sangat umum terjadi.

Fardhu keempat adalah menyapu kepala. Menyapu maksudanya melapkan sesuatu hingga basah. Hal yang patut dicatat adalah tidak ada menyapu tanpa gesekan. Jadi menyapu tidak cukup hanya meletakkan tangan yang basah ke kepala. Kemudian –biasanya- kita ikut menyapu telingan kita. Patut diketahui bahwa menyapu telinga bukanlah fardhu wudhu melainkan hanyalah sunnah dalam berwudhu. Dianjurkan bahwa iar yang digunakan dalam menyapu kepala dan telinga adalah air yang sama

Fardhu kelima adalah membasuh kedua kaki serta kedua ruas jari. Batas minimal kaki yang dibasih adalah hingga mata kaki. Cara ‘membasuh’ kaki disini juga sama seperti cara membasuh kedua tangan yaitu ‘airnya harus dialirkan’.

Fardhu keenam adalah tertib dalam melaksanakan fardhu wudhu. Tertib disini artinya adalah berurutan dari niat hingga membasuh kedua kaki. Tidak sah wudhu seseorang bila dimulai dari membasuh kaki, hingga membasuh muka (urutannya dibalik).

3. Lalu, bagaimana hukum membasuh kedua telapak tangan, kumur-kumur, istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), membasuh anggota badan sebanyak tiga kali, bukankah itu termasuk wajib wudhu juga?

Jawaban yang tepat adalah perkara-perkara tersebut bukanlah fardhu wudhu. Perkara-perkara tersebut adalah bagian dari sunnah-sunnah wudhu. Diantara sunnah-sunnah wudhu yang lai adalah memulai dengan basmallah, siwak, meyela-nyelangi jenggot (khusus ikhwan, akhwatkan g punya he…he…he…), menyelangi anggota wudhu sebanyak tiga kali, tayamun (bukan tayamum lho) yaitu mendahulukan bagian kanan dibandingkan bagian kiri, menggosok –maksudnya adalah melewatkan tangan ke atas anggota wudhu-, muwalat artinya berturut-turut melakukan fardhu wudhu tanpa diselingi aktifitas lain, berdoa ketika dan sesudah berwudhu, serta mengerjakan sholat sunnah dua rakaat setelah berwudhu.

Disamping itu ada hal yang menarik dari sunnah-sunnah wudhu ini –karena itu saya pisahkan menjadi paragraf sendiri- yaitu sunnah ‘memanjangkan cahaya’. Bingungkan? Sama donk?!, ketika pertama kali saya membacanya bingung juga. Ternyata maksudnya adalah memanjangkan daerah basuhan –melebihi daerah yang fardhu- ketika membasuh muka, tangan dan kaki. Kalau muka berarti sampai dagu bawah, tangan atas siku sedangkan kaki berarti sampai betis.

Akan tetapi sunnah ‘memanjangkan cahaya’ itu juga dibarengi dengan sunnah agar kita tidak boros dalam pemakaian air. Pakailah ar secukupnya, bahkan dalam hadist nabi Muhammad SAW berwudhu hanya dengan satu mud air. Kalau dikonversikan sekitar 40 cm3 berarti hanya sekitar satu botol. Nah disinilah justru tantangannya, bisakah kita menyempurnakan wudhu kita dengan air yang secukupnya, harus bisa, setidaknya berusaha karena ini merupakan bagian dari sunnah rasul yang mulia.

Nah itulah sekilas FAQ tentang wudhu. Semoga bisa menjawab dan memberi pengetahuan baru. Oya untuk mengetahui dalil-dalil dari masalah yang diajukan diatas, silahkan rujuk buku FIQH SUNNAH karangan SYAIKH SAYYID SABIQ jilid satu pada bab Thaharah dan Wudhu.

About these ads

5 comments on “FAQ Fiqh #1 Tentang wudhu

  1. assalam. bung, i mo nanya nih bung..
    waktu dulu i ngaji ma bapa i, katanya, air musta’mal itu bisa dipake buat wudhu dengan syarat airnya air banyak, yaitu air yang volumenya lebih dari volume tiga kulah(1 kulah itu sekitar 1 hasta kubik, berarti tiga kulah itu berarti sekitar 1 m kubik).
    jadi, ga sembarangan juga kita bisa make air musta’mal..

    setau i c begitu..wallhua’lam

  2. waalaikumsalam.

    mang benar beh, ana juga pernah dengar tuh hadist.
    trus pas ana tanyain ma ustad di bandung, beliau bilang ‘kulah ‘ itu g ada standard bakunya.
    nah ntm sendiri bilang ‘sekitar-sekitar’ kan?

    trus katanya biar g terjadi perdebatan 1 kulah itu berapa dan sebagainya, para mayoritas ulama sepakat bahwa asal air tersebut tidak hilang kemutlakannya maka air tersebut bisa dipakai.

    nah begitu. Tapi ini juga belum tentu yang paling benar lho. namanya juga masih belajar. wallahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s