
hmmp, pada note sebelumnya, saya sudah bercerita bahwa kunci sepeda motor saya hilang sehingga, saya terpaksa memakai angkot untuk pergi kuliah. Itu hikmah pertama yang bisa saya petik dari hilangnya kunci motor saya ini.
Hikmah yang kedua, saya dapat hari ini. Pagi tadi mendapat SMS dari seorang al-akh untuk membela Majelis Ta’lim Salman ITB dalam kompetsi futsalman (kompetisi futsal antara unit-unit salman). Ketika itu saya memutuskan untuk naik sepeda ke Sasana OlahRaga Ganesha, tempat berlangsungnya pertandingan.
nah, saya mendapat pelajaran, ternyata jalan yang biasa saya tempuh (dan kebanyakan jalan di bandung) ternyata banyak yang berupa tanjakan dan turunan. Jalan dago contohnya, dari arah simpang menuju ITB ternyata berupa turunan, yang kalau kita tidak baik sepede sungguh tidak akan terasa. Namun jalan taman sari dari kebun binatang menuju Sabuga ternyata landai. Suatu hal yang tidak saya perhatikan selama 2 tahun melewati jalan tersebut.
bersepeda juga mengingatkan saya, akan kenangan masa SD di Surabaya. ketika itu, untuk ke sekolah saya selalu bersepeda. Entah mengapa setiap bersepeda membawa saya kembali ke surabaya. Ingat kerika itu main sepeda kemana-mana. Setiap sore keliling pakis, mencari rute-rute baru menuju sekolah. Turing keliling bareng teman. Sepeda saya ketika itu berwarna hitam dan dibeli pada pasar sepeda bekas di surabaya (namanya lupa). Sama seperti “belalang tempurku”, sepeda itu merupakan kendaraan kesayanganku. Sayang saat pindah ke Jakarta sepeda itu menjadi jarang digunakan dan akhirnya di jual.
Yang pasti bersepeda lebih sehat dibandingkan naik motor.
(jadi mempertimbangakan untuk membeli sepeda bekas di Bandung, katanya harganya berkisar 100 rb mpe 300rb)

