ini sebuah note lanjutan dari notes ku sebelumnya yang ber’title’
“mangapa akhwat harus jago masak”
diambil dari pengalaman kakak kelas semasa SMA.. (izin kopas ya kang!!)
Tanpa bermaksud apa – apa, Saya hanya mau sedikit berbagi terkait pengalaman saya setelah mengenapkan setengah agama.
Ini juga bukan bermaksud membuka aib keluarga, tapi lebih sebuah pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran nantinya. Khan teman2 juga nanti pada nikah kan!!! Saya juga udah minta izin sama ade_Qi ( Istriku ) untuk meng upload tulisan ini.
Setelah menikah, ada sedikit kendala. Antara kami ada sedikit perbedaan dalam selera makanan. Hal ini membuat kondisi di awal – awal menjadi sedikit cukup berkesan terkait selera makanan.
Saya orangnya agak rewel terkait makanan, jadi harus sesuai selera saya, kalau ga cocok, saya kayaknya lebih prefer ga makan atau beli makanan di luar. Tapi teman – teman jangan salah sangka, Ade_Qi bisa masak koq, Cuma seleranya tidak cocok dengan selera saya.
Untungnya saya punya hobby masak dari kecil, jadi hal tersebut bisa ada solusinya. Sejak SMP, saya suka sekali memasak. Tapi sejak SMU kelas 2 sampai kuliah saya kesulitan membagi waktu untuk masak. apalagi coba resep baru.
Sekarang saya jadi mendapat kesempatan waktu lagi di dapur untuk meyalurkan hasrat saya hobby memasak.
Jadi, untuk para laki – laki ( ikhwan ) yang belum menikah, mau menikah, atau sudah menikah. Ga ada salahnya anda mulai sekarang belajar memasak. Toh Istri anda pasti juga akan senang kalau anda bisa memasak.
Thank’s to Ade_Qi yang bersedia mengalah terkait selera makanan.

