busway

saya dan busway

setelah hampir 6 tahun tinggal di jakarta, baru kemarin saya sempat naik dan merasakan sendiri angkutan massal yang digadang-gadangkan mampu merubah wajah transportasi ibu kota : Bus Way. Ya selama ini saya hanya melihat dan menganalisis angkutan massal bus way dari apa yang diberitakan oleh media, pendapat orang-orang di berbagai forum, serta komentar berbagai dosen transport saya di teknik sipil ITB. Nah karena saya sudah berkesempatan naik, maka saya ingin berbagi pendapat dari pengalaman saya menaiki angkutan massal yang diklaim murah, aman, nyaman dan bebas macet ini.

Oh ya, perlu saya beri tahu, bahwa saya naik busway hanya di 3 koridor yang berbeda dari 10 koridor yang beroperasi sekarang, sehingga pengamatan ini hanya valid pada ketiga koridor tersebut. Koridor tersebut adalah koridor 3 kalideres-harmoni, koridor 9 pluit-pinang ranti; serta koridor 7 Kp Rambutan- Kp Melayu. Rute perjalan saya adalah dari jalan Dan Mogot di koridor 3, transit di halte grogol 1 menuju grogol 2, turun di halte cawang UI dan berganti koridor menuju Kp Melayu. Dari perjalanan singkat itu -lebih kurang 1,5 jam- ada beberapa hal yang menurut saya merupakan kelemahan dari angkutan busway, sebagai angkutan massal yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan transportasi Jakarta. Namun dibalik segala kekurangan itu, kelebihannya pun ada. Dan jujur, saya sebenarnya menyimpan harapan bahwa busway ini pada akhirnya akan benar-benar merubah wajah transportasi ibu kota.

Kelemahan-kelemahan yang ada , pertama adalah perkerasan yang hancur dan bergelombang serta pembatas jalur yang rusak. Bila kita perhatikan semua jalan busway dengan rute yang saya lalui diatas, semua jalan di jalurnya terbuat dari beton bertulang (rigid pavement). Seperti yang penulis pernah pelajari perkerasan dengan rigid pavement adalah jenis perkerasan dengan tingkat kerataan yang tidak terlalu baik jika dibandingkan dengan jalan yang terbuat dari aspal. Hal ini mengakibatkan bus yang ditumpangi cenderung bergoyang-goyang dan membuat penumpang menjadi tidak nyaman, terutama penumpang yang tidak mendapat tempat duduk. Selain itu untuk membangun rigid pavement diperlukan biaya investasi yang lebih besar dari flexible pavement. Walaupun tidak perlu perawatan rutin dengan intensitas setinggi flexible pavement. Akan tetapi perlu diingat, jika perkersan kaku ini rusak, maka biaya untuk menggantinya dengan yang baru, jauh lebih mahal dari pada biaya perawatan flexible pavement.  Selain itu dari berita yang pernah saya baca, katanya pemerintah Jakarta memutuskan penggunaan rigid pavement karena perawatannya yang tidak perlu terlalu sering. Alasan lainnya adalah karena rigid pavement jauh lebih tahan terhadap genangan air dibandingkan dengan flexible pavement. Saya jadi berpikir, apakah ini membenarkan pernyataan beberapa sosiolog bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang hanya bisa membangun/membeli yang baru, namun lemah dalam hal pemeliharaan dan perawatan, serta bukti otentik keputusasaan pemerintah DKI Jakarta akan penataan drainase yang baik di kotanya !? entahlah

persoalan kedua, adalah banyak pembatas lajur busway yang hancur. Hal ini menyebabkan, begitu mudahnya kendaraan lain menyerobot masuk ke dalam jalur bus way. Sehingga keistimewaan busway yang diharapkan mampu membawa penumpang dengan cepat dan nyaman menjadi tidak lagi ada. Busway hanya menjadi bis khusus dengan halte khusus, tidak kurang dan tidak lebih. Selain banyak yang hancur, pembatas lajur ini juga tidak diberi tanda dengan baik. Sehingga seringkali para pengendara lain tidak sadar bahwa mereka sudah berada di jalur busway. Posisinya yang lebih tinggi juga berbahaya bagi pengguna jalan yang lain, terutama sepeda motor.

tantangan ketiga, menurut yang saya amati adalah sistem informasi jalur dan bus yang membingungkan dan belum tersosialisasi dengan baik. Idealnya ketika orang yang pertama kali naik busway pun dia bisa berpergian tanpa tersesat. Tahu dimana dia harus turun dan kemudian berpindah, dimana saja bisa berganti jalur dan lain-lain. Upaya itu memang telah dilakukan. Sepanjang halte yang ada sudah terpasang peta koridor-koridor busway. Tetapi jumlahnya sangat minim, hanya satu per halte. Sebaiknya disediakan minimal 2 peta per halte, dan lebih banyak lagi untuk halte yang merupakan halte transit. Hal kedua yang saya soroti adalah warna bis dan jurusannya. Dengan semakin banyaknya koridor yang dilayani oleh jalur busway, maka kemungkinan semakin banyaknya halte transit akan semakin banyak. Dan akan membingungkan penumpang di halte transit jika bis yang datang tidak mempunyai keterangan yang memadai. Hal ini penulis lihat ketika penulis berpindah baik dari koridor 2 ke koridor 9 (halte grogol), maupun dari koridor 9 ke koridor 7 (halte cawang UKI). Sebagai akibatnya penumpang banyak menumpuk di pintu masuk padahal belum tentu bis yang akan datang adalah bis yang akan dinaikinya. Penumpang banyak yang bertanya, dan tentu saja jika penumpang tersebut ada di bagian belakang antrian, dan ternyata bis yang datang adalah bisa yang ingin dinaikinya, maka perlu usaha ekstra keras, untuk menembus penumpang lain yang menunggu bis di depan pintu halte. Walapun ada tanda tetapi itu hanya nomer kecil yang diletakkan di samping bis dan tidak terlihat dari jauh. Nomer itu baru jelas ketika bis tepat melewati sebelah halte. Saran saya untuk persoalan ini adalah, pembedaan warna bis yang melayani tiap koridor, dan tiap bis diberi tulisan atau no yang jelas sesuai koridornya masing-masing. Sehingga penumpang tidak menumpuk di depan pintu halte dan dapat menunggu dengan baik di dalam halte sampai bus dengan koridor yang ingin dinaikinya datang.

Selanjutnya, persoalan busway yang menurut saya harus segera diperbaiki, agar menjadi transportasi publik yang layak dan menjawab tantangan transportasi Ibu kota adalah armada yang kurang dan headway yang tidak diatur. Hal ini bisa dilihat dari penumpang yang menunggu terlalu lama, atau bis yang kosong datang berturut-turut. Dua hal ini saya alami dalam perjalanan singkat saya. Dan dari berita yang saya baca, jumlah armada busway, masih jauh sekali dari ideal untuk melayani warga ibu kota. Penambahan bis gandeng bisa dijadikan solusi untuk hal ini. Penjagaan headway juga penting, agar untuk tiap armada yang melayani tiap koridor tingkat load factor penumpangnya tetap tinggi.

Persoalan klasik lainnya adalah sarana pendukung yang kurang layak. Beberapa yang sempat tercatat dalam perjalanan singkat saya adlaah atap jembatan penyeberangan yang tidak mampu melindungi dari tampias hujan. Ketika itu saya berfikir, jika kondisinya seperti ini, tentu para eksekutif yang dituntut untuk tampil rapi didepan para kliennya akan berpikir berulang kali untuk menggunakan busway sebagai alat transportasi utamanya. Hal ini bisa diperbaiki, dengan pelebaran atap jembatan penyeberangan dan pengadaan talang, untuk menghalangi tampias. Sarana lainnya adalah halte yang kotor dan pelat halte yang banyak melengkung, sungguh tidak elok untuk dilihat dan dikatakan nyaman sebagai tempat menunggu. Selain itu tiket yang jelek dan terkesan seadanya, juga menjadi salah satu kekurangan yang saya catat. Terakhir tempat menunggu di halte, terutama halte transit tidak ada. Yang ada hanyalah bangku-bangku panjang yang jumlahnya jauh sekali dari penumpang yang ada di halte. Hal ini menyebabkan penumpang harus berdiri, dan cenderung memilih menunggu di depan pintu masuk.

Keistimewaan suatu angkutan massal yang cepat adalah kemampuannya untuk membentuk struktur kota. Dan mengatur serta mengendalikan perubahan lahan. Untuk membuat hal itu terwujud tentu sistem angkutan massal tersebut harus benar-benar menjadi urat nadi transportasi warganya. Nah, aspek ini yang belum bisa dipenuhi oleh busway. Poin keenam yang saya catat terkait belum layaknya busway adalah tidak jelasnya sistem feeder dan angkutan pengumpan untuk sampai jalur busway. Padahal dalam pembuatan jaringan angkutan massal, yang tidak kalah pentingnya dibandingkan penyiapan infrastrukur angkutan massal tersebut adalah penyiapan end service. Dimana, dalam kasus ini masyarakat pengguna busway, benar-benar merasa tidak keberatan untuk mendatangi halte-halte busway dari tempat kediamannya untuk kemudian bertanportasi dengan menggunakan busway. Parameter-parameter yang sempat saya amati yang menguatkan pendapat saya ini adalah penumpang yang menaiki busway adalah penumpang yang dari dahulu terbiasa menggunakan angkutan kota, sehingga belum terdapat pergeseran perilaku dari yang biasanya bertransportasi dengan kendaraan pribadi, menjadi dengan busway.

Terakhir kekurangan busway menurut saya adalah tidak ada bus khusus wanita dan pria untuk menghindari adanya pelecehan seksual di dalam bis. Kondisi bis yang penuh sesak sangat rawan pelecehan seksual dan tindakan kriminal lainnya. Disamping itu tentu ada rasa tidak nyaman bagi laki-laki muslim maupun perempuan muslim untuk terlalu dekat dengan wanita yang bukan mahramnya. Sentuhan-sentuhan yang tidak bisa dihindarkan, bau parfum yang tidak bisa dihindari adalah salah satu alasan mengapa saya pribadi cenderung tidak suka naik kendaraan umum.

terakhir sekali, kekurangan busway dalam pandangan saya adalah tidak ada ruang khusus merokok di halte busway! dan itu mengganggu, sangat.

Disamping kekurangan yang ada, ada banyak hal yang juga harus diapresiasi dari layanan busway. Karena program ini baru dan merupakan terobosan, maka ketidaksempurnaan di awalnya adalah suatu kewajaran.  Dan sungguh kekurangan yang ada diatas bukanlah aib yang tidak bisa diperbaiki atau cacat yang selamanya sangat ada. Kekurangan diatas masih sangat bisa diperbaiki di waktu yang akan datang. Dan itu adalah tugas kita bersama untuk mewujudkan layanan busway ini menjadi lebih baik lagi.
beberapa hal positif dari busway yang sempat saya catat dalam perjalanan singkat saya :

Pertama,  pelayan yang ramah dan sangat membantu. Ya, baik dari mbak-mbak penjual karcis, petugas keamanan di halte, sampai penjaga pintu bis sangat ramah dalam membantu penumpang. Kesimpangsiuran informasi terkait rute dan halte-halte transit yang harus diambil, ditutupi oleh ramahnya pelayanan dari para petugas di lapangan. Penumpang pun menjadi nyaman dan tidak segan untuk bertanya kepada petugas.  Kedua, jumlah penumpang yang diatur, sehingga tidak terlalu berdesakan. Tidak seperti kereta api listrik yang penumpangnya naik seenaknya dan sama sekali tidak ada pengaturan kapasitas maksimum utuk masing-masing gerbon. Pada busway ada petugas yang mengatur tingkat pengisian masing-masing bus. sehingga walaupun berdiri penumpang masih bisa merasa nyaman. Hal ini pulalah yang membedakan busway dengan angkutan berbasis bus yang lain. Dimana tidak ada setoran yang dikerjar sehingga tingkat pengisian penumpang bisa diatur dan dioptimalkan. Ketiga, ini yang paling saya suka. Ongkos yang murah. Sebagai perbandingan, pada waktu pagi hari saya menggunakan taxi dari rumah saya menuju dan mogot, uang yang harus saya keluarkan adalah 70ribu sekian. Sedangkan ketika pulang, total ongkos saya hanya 10ribuan. Itupun setengahnya saya pakai untuk membayar ojek yang mengantar saya ke halte bus terdekat. Dengan ongkos hanya 3500 untuk jam-jam sibuk, dan 2000 untuk jam malam, dan kita sudah bisa berkeliling ibu kota, ongkos busway ini tegolong sangat murah. Keempat, koridor yang ada sudah cukup untuk berkeliling jakarta dan mendatangi berbagai tempat penting disana. Ya dari rumah saya sampai ke dan mogot bisa dibilang membelah jakarta, dan tentu saja itu bisa dilakukan dengan busway.

sebagai penutup, saya hanya ingin mengkonfirmasi keanehan yang saya temukan di perjalanan. Dalam perjalanan pulang di dari halte grogol satu sampai halte cawang UI, jalur busway melewati tempat para kader partai yang terhormat. Dan tebak, tidak ada halte disana !!. Dugaan saya, mungkin para perancang busway sadar tidak ada gunanya ada halte pemberhentian di gedung DPR dan MPR, toh tidak akan pernah ada wakil rakyat yang akan menggunakan angkutan kota sebagai prioritas moda transportasinya. Yang akan mereka tampilkan hanyalah deretan mobil mewah yang mereka dapatkan dengan menggemukan perut sendiri atas nama rakyat. Tanya mengapa!?

About these ads

3 comments on “saya dan busway

  1. penutupnya oke banget..
    anggota dpr perlunya mobil baru bukan busway..hehehe..

    btw,telat banget baru naik busway. oia,fiq ditinjau dari sisi sipil trayek busway gimana tuh??klo pagi ikutan macet juga soalnya, apalagi pada ga tertib.

    -calon gubernur dki jakarta :D-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s