Bangkitlah Jawa Barat, Harapan itu masih ada

Semalam saya berkesempatan mabit di masjid Pusdai (pusat dakwah islam) Bandung. Mabit yang menghadirkan gubernur Jawa Barat terpilih itu, begitu membekas di hati saya.

Ketika itu, Ustadz Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat Terpilih) memberikan tausiyahnya tentang membangun Jawa Barat ayng lebih baik. Dimana tantangan-tantangannya sangat banyak. Ustadz juga mengingatkan agar kemenangan ini tidak disikapi berlebihan, kita belumlah melakukan apa-apa. Menang di Pilkada bukan berarti kemenangan dakwah. Dakwah harus tetao terus dikerjakan, bangunlah terus jejaring kesholehan sosial, karena sholeh pribadi saja tidak cukup.

Acara yang juga menghadirkan Ustadz Thorriq Hidayat, Lc dan Ustadz Saiful Islam mubarak, Lc ini terus berlangsung. Ditengah dinginnya kota bandung, ustadz thoriq menyampaikan tausiyahnya. Beliau mulai dari membeberkan kondisi umum Jawa Barat yang penuh dengan kemiskinan dan kebodohan. Lalu seperti juga ustadz ahmad, beliau mengingtakan agar kita tidak terlalu berlarut dalam euforia kemenangan. Masih banyak tanggung jawab yang mesti kita pikul.Bahwa kemenangan ini harus disamut dengan tasbih, tahmid dan istigfar.

cerita terus berlanjut, tiba-tiba ketika memasuki sesi tanya jawab terjadi peristiwa yang tidak disangka-sangka.

Seorang ibu merangsek masuk ke dalam barisan jamaah ikhwan dan memaksa untuk bersalaman dengan ustadz ahmad. Tentu saja beliau menolak. Akibatnya ibu itu menangis di tengah-tengah jamaah!!. Panitia segera bertindak, para akhwat segera menghampiri ibu tersebut dan membawanya kembali ke dalam barisan akhwat untuk ditenangkan. Bagi saya itu bukan pemandangan biasa, bagi saya itu merupakan tanda ekspektasi masyarakat kepada gubernur baru yang terpilih untuk tidak main-main dalam menjalankan amanahnya. Bahwa masyarakat menunggu perubahan yang selalu dijanji-janjikan.

Kembali ke acara mabit, mabit malam itu tetap saja luar biasa bagiku. Menurut pengamantanku mabit itu dihadiri lenih dari 500 orang, masjid sudah tidak bisa menampung jamaah lagi, sehingga banyak yang harus tidur di luar (pemandangan yang tidak bisa kutemui kecuali ketika i’tikaf di masjid at-tin). Lebih luar biasa lagi, ketika diadakan Qiyamul lail, serentak kelimaratus manusia itu bangun dan memenuhi masjid dengan isakan tangisnya. Demi Allah, baru kali ini saya mengikuti sholat malam yang hampir sebagian besar pesertanya menangis.Saya pun tak kuat untuk menahan air mata. Rasanya jatuh begitu saja. Bagaimana tidak menangis, ketika imam (ustadz Saiful Islam Mubarak, Lc) membaca “fabiaiyialaa iraabbikumaa tukazziban” (dan nikmat tuhan manakah yang kamu dustakan), saya langsung teringat beban kuliah yang menumpuk, masalah-masalah lainnya dan terusnya diri ini ingin berkeluh dan berkesah. Ya Allah betapa susahnya hati ini tunduk bersyukur atas nikmat yang Engkau berikan . Sholat malam yang begitu syahdu. Shalat malam diakhiri dengan witir satu rakaat selama 30 menit.

Mabit pun berkahir dengan berakhirnya tanya jawab dengan ustadz Saiful Islam Mubarak Lc. Satu lagi energi yang kudapat untuk mengahadapi bulan berat perkuliahan ITB ke depannya. Moga bisa sabar dan ikhlas

Advertisements
Bangkitlah Jawa Barat, Harapan itu masih ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s