Rihlah sejenak, segarkan hati, jiwa dan Raga

DurenSawit-Depok-Puncak-Depok-Durensawit

Perjalanan fisik dan spirtual kualami di hari kamis dan jumat kemarin (13-14 Juni 2008). Perjalanan refleksi pengenalan diri dan jalan Jakarta-Depok-puncak. Ada benarnya juga ya, ketika kita sedang suntuk dan ‘mengendap’ maka bergeraklah niscaya engakau akan menjadi lebih segar. Ya pada hari itu saya melakukan rihlah (perjalanan) untuk menghilangkan rasa suntuk saya setelah lebih kurang 4 bulan kuliah dengan pressure akademis yang begitu tinggi.

Perjalanan cerita dimulai rabu siang menjelang sore, ketika saya mendapat telepon dari teman SMA saya. Beliau mengajak saya melakukan survei lokasi ke daerah puncak. Tentu saja langsung saya iyakan. Survei akan dilaksanakan dengan mengendarai sepeda motor dari Depok menuju Puncak pada hari jumatnya.

Hari Kamis, saya berangkat dari Duren Sawit (rumah saya) menuju UI depok dengan menggunakan KRL kelas ekonomi. Ternyata kelas ekonomi betulan kelas ekonomi, saya berasa jadi pepesan ikan di dalam situ. Wajar karena saya berangkat sore hari yang artinya banyak orang pulang kerja dari jakarta menuju kota satelit disekitarnya. Setelah perjalanan yang amat sangat melelahkan, sampailah saya distatiun ‘kemengangan’ UI. Dari situ saya beranjak ke tempat kost teman di jajaran Kukusan teknik (kalau di ITB plesirannya kali). Melewati malam yang hangat dan nyaman di kostan teman sekaligus nostalgia masa SMA yang berharga. Teman-teman dekatku (dulu ‘selingkaran’) tembus PTN semua lho, dengan jurusan yang cukup favorit, 1 di Hubungan internasional UI, 1 di Akuntansi UI, 1 di Kedokteran Undip, 1 di Teknik Elektro UI, sedangkan saya sendiri … ah pasti taulah. Pokoknya malam itu diisi dengan acara kangen-kangenan (g banget yah bahasanya).

Paginya semua bersiap untuk memulai perjalanan, perjalanan ini dilakukan oleh 4 orang dengan 2 motor. Perjalanan dimulai dengan pengisian bahan bakar full tank untuk kedua ‘kuda’ kami. Berlanjut ke arah margonda menembus Depok 2 dan akhirnya sampai di jalan raya bogor. Sampai sini perjalanan belum terasa melelahkan, tampang masih seger, badan masih buger. Perjalan terus berlanjut, menyusuri jalan raya bogor, terus melaju, cimanggis, cilodong, cibinong, masuk ke kab. Bogor. Disini mulai terasa stamina diuji, mulut kering dan jok motor terasa sedemikian panas. Akhirnya masuk ke dalam kota bogor melewati jalan Padjajaran, Kebun Raya, terus ke Terminal Baranang Siang dan akhirnya setelah perjalanan lebih dari 2 jam akhirnya patung singa (tanda daerah ciawi) mulai tampak terlihat. Karena waktu mendekati shalat jumat, kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan melepas lelah.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan kembali dengan melacak jejak alamat lokasi yang akan kami survei, sungguh kami dibuat bingung dengan peta yang tidak jelas, ancer-ancer yang tidak tepat, dan nama tempat yang tidak hanya satu. Kami mencari-dan terus mencari hingga akhirnya ketemu juga. Eh ternyata lokasi tersebut telah dipesan oleh orang lain, hhh kecewalah kami, kemudian perjalanan berlanjut dengan mengeliingi daerah puncak, lokasi demi lokasi kami kunjungi dan sambangi, ada yang kosong ada yang tidak, ada yang sesuai ada yang tidak. Yah dengan berbekal informasi itu, kami beranjak pulang ketika jam telah bergeser ke arah 5.30 sore.

Perjalanan pulang pun dimulai, melintasi rute yang sama. Dari Puncak, turun ke ciawi, terus ke arah Bogor, baranang siang, Kebin binatang, terus maju walaupun lelah dan letih menghinggapi diri dan ‘kuda’ kami, akhirnya setelah perjalanan yang melelahkan kami sampai di staitun ‘kemenangan’ Pondok Cina Depok. Selesaikah perjalanan panjang ini?…

Ternyata tidak, saya sudah ditunggu orang rumah sehingga terpaksa memacu motor kembali dari UI menuju Duren Sawit. Pasar minggu terlewati, kemudian Pasar Rebo, wah akhirnya terlihat PGC (Pusat Grosir Cililitan) wuih rumah semakin dekat. Kali Malang pun kutembus, menuju Jalan Kolonel Sugiono, belok kiri sampailah ke Jalan Serdang. Rumahku tinggal beberpa meter lagi, dan akhrinya Jalan Kelurahan 1a blok C1 no 2, tepat berada di depanku. Kuketuk pintu dan istriku (eh salah adikku) keluar menyambutku. Terlabuhkan sudah lelah diri.

Wah esok paginya aku melihat odometer ‘kuda’ yang kupakai kemarin. Wuih ternyata jarak yang kami tempuh kemarin lebih dari 200 km. Perjalanan rihlah yang luar biasa, baru kali ini aku menempuh jarak sejauh dan selama itu (lebih kurang 12 jam, dari UI berangkat 9.00 sampai rumah 21.00). Perjalanan yang cukup menguras energi jiwa ini, dan sekaligus membersihkannya. Semoga udara kotor ibu kota tak mengotori setiap perjalanan yang ditempuh penghuninya.

Advertisements
Rihlah sejenak, segarkan hati, jiwa dan Raga

3 thoughts on “Rihlah sejenak, segarkan hati, jiwa dan Raga

  1. faiz says:

    asyik buanget….muter2….
    kapan2 ajak ana ya, akh…
    kapan2,tak ajak jg keliling Padang…mau ga?
    tapi kapan ya?liburan ini ana ga pulang,,,,
    Januari 2009…gimana?
    buat pemanasan, liburan ini kita backpacking yuk….bareng habib dan adhit…KELILING JAWA…mau ga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s