Ramadhan : Pusat Inkubasi Spiritualitas Bangsa

Ramadhan adalah bulan yang selalu dinantikan oleh umat islam diseluruh dunia. Bangsa Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, pun selalu meyambut Ramadhan dengan tradisi yang khas. Tradisi yang terlihat biasa saja namun bila diperhatikan lebih dalam mengandung makna perubahan dan transformasi. Menariknya, tradisi menyambut ramadhan dilakukan dalam bentuk yang berbeda-beda bergantun pada daerah asal perayaan.

Kita bisa lihat tradisi perempuan singkil di aceh. Mereka terbiasa melakukan mandi Balimau. Mandi Balimau dengan meramu puluhan jenis bunga, termasuk daun serai pulau pinang serta dicampur daun pandan, disiapkan secara khusus. Ramuan itu kemudian ditumbuk, disaring untuk mendapatkan air bersih antara satu sampai dua liter yang akan digunakan untuk keramas. Dengan mandi ini mereka berharap dapat memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan yang suci, bersih.

Ada juga tradisi dari kota semarang yaitu Dugderan. Dug deran berasal dari kata dug yang berati suara bedug dan der yang berarti suara meriam. Menurut sejarahnya dahulu penyambutan puasa di kota Semarang dilakukajn dengan mennembakkan meriam dan memukul bedug berkali-kali. Namun, pada perkemabangannya dugderan telah megalami berbagai modifikasi. Bagi warga kota Semarang Dugderan bukanlah tradisi tanpa makna belaka. Dengan Dugderan mereka berharap dapat menyambut bulan suci ini dengan perasaan gembira, dan berharap semoga apa yang mereka lakukan dalam bulan suci ini mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Sementara di kalangan suku Bugis, ada tradisi suro’baca. Tradisi suro’baca merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan mulai sepekan hingga satu hari sebelum Bulan Ramadan (H-7 sampai H-1 Ramadan). Kebiasaan yang masih tetap terjaga, baik di masyarakat pedesaan hingga perkotaan. Sebelum menggelar suro’baca, keluarga menyiapkan aneka hidangan seperti ayam gagape’ (mirip opor ayam), ikan bandeng bakar yang dibelah dengan diberi cabai dan garam halus, lawa’ (urap) dari pisang batu, dan sebagainya sesuai dengan kemampuan ekonomi si empunya hajatan. Untuk pencuci mulut, dipilih kue-kue tradisional seperti kue lapis, onde-onde, dan cucuru’ bayao. Setelah semua hidangan ditata, seluruh anggota keluarga duduk bersila di depan aneka hidangan itu sambil mengikuti guru baca membaca ayat-ayat Alquran, serta mendoakan almarhum (leluhur) agar mendapat keselamatan di akhirat dan keluarga yang ditinggalkan memperoleh keselamatan.

Sementara bagi masyarakat perkotaan, nuansa Ramadhan pun tidak mampu dihindari. Jalan-jalan protokol dipenuhi spanduk dan baliho bertulisan “Marhaban ya Ramadhan”. Artis-artis di televisi tiba-tiba berjilbab, bergamis, dan berpeci. Pusat-pusat perbelanjaan pun tak kalah hebohnya menyediakan barang-barang khas Ramadhan.

Sebenarnya masih banyak tradisi-tradisi dari berbagai masyarakat yang ada di Indonesia. Dalam setiap tradisi itu mengandung keunikannya masing-masing. Namun, bila dilihat dari makna yang terkandung dalam masing-masing tradisi itu, memiliki ruh dan jiwa yang sama. Ruh perubahan dan transformasi. Perubahan dan transformasi menuju arah yang lebih baik. Ramadhan selalu menjadi titik awal perubahan itu.

Namun, mengapa bangsa Indonesia tetap saja terpuruk setelah 63 tahun melewati Ramadhan? Apakah tradisi-tradisi yang ada hanya merupakan simbol-simbol belaka? Tanpa ada ruh yang menyertainya? Apakah pemaknaan ramadhan yang dilakukan bangsa Indonesia sangat bertolak belakang dengan tradisi perayaan yang sangat meriah dan bermacam-macam tersebut? Jawabannya, sangat mungkin, ya. Kita, bangsa Indonesia, sangat lemah dalam pemaknaan akan Ramadhan. Ramadhan hanya dijadikan sebagai ajang puasa tahunan, sebagai ajang untuk ber’islam’ ria, tanpa pemaknaan, tanpa ilmu, tanpa hati.

Kita, bangsa Indonesia, sudah terlalu lama, berislam tanpa ilmu, tanpa makna. Mari kita renungkan kembali. Sejarah negeri ini mencatat bahwa islam masuk ke Indonesia melalui budaya masyarakatnya. Karena itu wajar bila akhirnya islam dihayati hanya sebagai budaya atau kaidah-kaidahnya masih bercampur dengan agama lain. Meskipun ada sebagian golongan yang telah mempelajari dan mempraktekkan islam secara kaffah, itulah para ulama negeri ini. Namun, bahwa sebagian besar penduduk negeri ini hanya menganggap islam sebagai budaya, hanya sebagai ritual belaka, bukanlah omong kosong belaka.

Oleh karena itu, islam yang kita anut sebagai din ini haruslah dimaknai ulang oleh pengikutnya. Islam harus dimakanai sebagai suatu sistem hidup yang menyeluruh. Ia menyangkut akal, spiritualitas, dan jasmani. Cukup sudah pandangan yang menganggap islam hanyalah agama ritual belaka. Cukup sudah pandangan yang menganggap islam hanya tradisi-tradisi tanpa ilmu. Cukup sudah pandangan yang menganggap Islam hanyalah pelengkap dalam kehidupan ini.

Masyarakat Indonesia, dan kita khususnya, harus dicerdaskan, harus diberi pemahaman yang benar akan hakikat islam itu sendiri. Momen Ramadhan adalah saat yang tepat untuk dijadikan momen perubahan. Memaknai Ramadhan bukan hanya sebagai bulan perayaan, bulan tradisi, atau bulan biasa lainya. Melainkan memaknai bulan Ramadhan sebagai bulan ilmu , bulan amal serta bulan dakwah. Ramadhan adalah bulan transformasi. Transformasi diri dan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.

Para ulama pendahulu telah melaksanakan kewajibannya dengan baik. Hasilnya jelas, Indonesia menjadi negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Kali ini saatnya umat islam bangkit dan bergerak. Proses pencerdasan harus dilakukan dan itu tidak mungkin dilakukan seroang diri. Tujuannya sudah jelas, menjadikan islam tidak hanya sebagai simbol belaka, tidak hanya sebagai ritual, apalagi hanya dianggap sebagai tradisi. Mari kita bersama-sama memanfaatkan Ramadhan ini sebagai momen untuk merubah diri, keluarga, dan bangsa menuju kehidupan lebih baik dalam tatanan islam yang teduh. Karena Ramadhan adalah pusat inkubasi spiritual bangsa. Wallahua’lam bish shawab.

Bandung, 15 Ramadhan 1949

Taufiq Suryo Nugroho

nb : essay ini mendapat pernghargaan juara dua pada lomba “Pekan Kreativitas Ramadhan se-ITB”

Advertisements
Ramadhan : Pusat Inkubasi Spiritualitas Bangsa

One thought on “Ramadhan : Pusat Inkubasi Spiritualitas Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s