Melihat Arsitektur Masjid Salman Lebih Dekat

Masjid Salman ITB, adalah masjid yang sangat berkesan bagi saya. Masjid kampus pertama di Indonesia ini, sungguh sangat monumental. Terletak di tengah Jalan Ganesha Bandung ITB, masjid ini sangat nyaman digunakan untuk beribadah kepada Allah. Selain sejarahnya yang unik -masjid yang untuk pembangunannya memerlukan persetujuan presiden RI- masjid salman juga sangat unik dari segi arsitektur nya.

Walaupun saya tidak kuliah di jurusan Arsitektur, tetap saja salman mempunyai daya magis bagi saya pribadi. Hal-hal yagn sering membuat saya takjub :

1. Masjid salman adalah masjid tanpa tiang, yang pertama kali saya jumpai. Jika kita belajar ilmu struktur, sebetulnya sangat sulit, untuk membuat design seperti ini. Dimana gaya-gaya yang ada harus terdistribusi “hanya” kepada empat sisi masjid. Setahu saya, masjid salman dibuat tanpa tiang untuk memberikan kesan “luas” bagi para jamaah yang baru datang. Dan sungguh hal tersebut sangat terasa. Dan karena itu pula, dalam shalat berjaamaah, kita bisa saling merapat bahu dan kaki, benar-benar rapat dalam suatu ketataan yang hangat.

2. Masjid salman dibangun tanpa kubah. Ya, tidak seperti masjid-masjid pada umumnya, masjid salaman ITB  dibangun tanpa arsitektur yang mengerucut di bagian atapnya. Bahkan atapnya datar. Flat. Hal ini (mungkin) konsekuesensi logis dari tidak adanya tiang di masjid salman. Sehingga strukturnya tidak mampu lagi menahan beban kubah. Namun, tahukah anda, justru hal itulah yang  membuat masjid salman istemewa. Ketiadaaan kubah sama sekali tidak mengurangi nilai keindahan dari masjid salman.

3. Langit-langit masjid. Jika kita perhatikan, langit-langit masjid salman terdiri dari kayu-kayu persegi yang “dipotong” diagonal sehingga membagi petak tersebut menjadi 4 bagian sama besar . Uniknya, intensitas warna kayu pada masing-masing segmen tersebut berbeda-beda. Dari yang terang sampai yang paling gelap. Semua diatur dalam tatanan yang apik. Cobalah sekali-kali kau mengunjunig salaman di pagi hari, ketiak cahaya matahari dari timur, menerobos masuk masjid dan menerangi langit-langitnya, engkau akan meliaht suatu pemandangan yang indah.

4. Sound system, salman, yang cenderung lebih di khususkan untuk para jama’ah di dalam masjid. Entah bagaimana, selalu saja, suara adzan dari masjid salman, tidak terlalu keras, hingga terdengar kemana-mana. Bahkan, suara adzannya pun tidak sampai gedung Campus Center ITB yang notabene masih berada di bagian depan kampus yang dekat dengan masjid. Akan tetapi, bila engkau shalat berjama’ah di dalam masjid, maka akan sangat terasa benaingnya suara imam salman membaca ayat-ayat cinta Allah.

5. Masjid salaman bukanlah masjid yang cocok untuk tilawah al-quran. Hal ini disebabkan, sangat teduhnya ruangan utama masjid salman. Hal ini disebabkan, masjid salman, cenderung remang-remang baik di pagi hari, siang hari, maupun sore hari. Katanya sih, untuk menambah kekhusyukan ibadah shalat. Bila ingin tilawah biasanya saya lebih memilih koridor utara atau timur, yang lebih terang dibandingkan di dalam masjid.

Yah, begitulah pengalaman saya, berinteraksi dengan keindahan bangunan dari Masjid Salman ITB. Masjid yang dengah keindahan arsitekturnya mampu membuat siapa saja tertarik untuk beribadah di sana.

berikut saya petikkan komentar-komentar lain tentang masjid salman ITB

Berkapasitas sekitar 1.000 orang, Masjid Salman ITB tercatat sebagai masjid pertama di

Indonesia yang dibangun dengan arsitektur modern. Jika kebanyakan masjid dibangun

dengan menggunakan beberapa tiang penyangga, maka di dalam masjid ini tidak ditemukan

pilar-pilar besar. Berbeda dengan kebanyakan perspektif arsitektur masjid lainnya, di lokasi ini orang

tidak akan menemukan adanya kubah. Di sini juga tidak didapati rangkaian kaligrafi

seperti yang biasa menghiasi sebuah masjid. (diambil di sini)

segar dan asri, itulah kesan yang tercipta saat itu. Masjid yang desain arsitekturnya ber atap datar ini yang -dahulu- terkenal akan keindahan arsitektur bangunannya masih berdiri kokoh, menjadi simbol arsitektur kontemporer yang khas dari kota Bandung ini (diambil di sini)

Bangunan masjid ini layak disebut sebagai satu tonggak arsitektur masjid paling penting bagi pembaruan bangunan masjid-masjid di Indonesia. Tonggak itu dapat dilihat pada upaya pembebasan diri dari tradisi dengan ditinggalkannya (hampir) secara total penggunaan idiom-idiom klasik seperti atap tumpang/tajuk pada masjid-tradisional atau kubah yang sering dianggap sebagai idiom universal dari masjid. (diambil di sini)


Seakan Salman memanggilku untuk menemui Rabbku

(kata-kata seorang teman yang sangat senang shalat berjamaah di masjid Salman)

Advertisements
Melihat Arsitektur Masjid Salman Lebih Dekat

3 thoughts on “Melihat Arsitektur Masjid Salman Lebih Dekat

  1. Iya nih Sur.. mesjid Salman memang enak..teduh..
    Kabar baik2, cuma di Melbourne, jarang bgt shalat di “mesjid beneran”. Eh malah cuma 1x deng!

    Mesjid Umar, lengkap dengan kubahnya.

    Selainnya.. biasa shalat di prayer room yang sempit dan kecil di kampus 😦

    Gmn kuliah? Kyaknya jd aktivis nih! Bagus Beb, tp jgn lupa tugas belajarnya ya! hehe

    Salam buat Agung, Didit, Titis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s