Hakikat Kalifatullah : To See the Unseen

Ketika Allah memutusan untuk mengangkat manusia sebagai khalifatullah-Nya di muka bumi, sebenarnya ada dua makhluk yang diajak berunding, yaitu manusia dan malaikat. Dalam dialog tersebut ternyata manuisa berlaku taat dan patuh pada Allah, sedangkan malaikat langsung menyatakan protes. Menanggapi protdes tersebut, Allah kemudian mengadakan ujian bagi kedua makhluk ini, bahan ujian itu adalah soal yang menunjukkan kemampuan intelektual dan kenyaataannya manusialah yang lulus ujuan itu.

Setelah ujian itu selesai dan berhasil dibuktikan bahwa manusia lebih unggul dalam hal intelektual, maka sebagian besar malaikat secara sportif bersujud kepada manusia, tetapi sebagian menolak dan merekalah yang oleh Allah disebut sebagai iblis. Sejak itulah di dalam dua makhluk Allah itu lahir tiga karakter, yaitu karakter manusa, malaikat dan iblis.

Mari kita ambil pelajaran dari kisah diatas. Pelajaran utamanya adalah sebagai berikut. Bila umat islam ingin meraih predikat sebagai khairu ummah, ingin menjadi umat yang berwibawa, bermartabat dan disegani, dihormati dan disegani, maka tidak ada jalan lain kecuali umat islam itu harus memenangkan ujian atau perlombaan kemampuan intelektual.

Inilah salah satu bentuk jihad akbar, yaitu jihad dengan yang memenangkan perlombaan dalam kemampuan intelektual. Lomba dengan siapa? Tentunya dengan seluruh bangsa di dunia.

Sebenarnya jika kita berbicara tentang jihad akbar, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah kita tidak malu kepada para pejuang intelektual muslim di abad-abad awal pasca wafatnya Rasulullah? Ketika itu kita bisa lihat semangat, daya juang,m dan sikap ikhlas sehingga mereka berhasil mengantarkan islam ke zaman keemasannya. Islam menjadi kiblat dunia. Islam menjadi pemimpin dunia.

Wahai para intelektual muslim Indonesia dan generasi muda, mari kita berjuang bersama di jalur itu. Kita siapkan semangat, daya juang, dan hati yang ikhlas untuk memproduksi ilmu. Maka kita harus kembali kepada jihad Intelektual. Apakah jihad intektual itu? Itu adalah jihad memampukan diri, melihat yang tidak tampak bagi orang lain, bagi bangsa lain (to see the unseen). Seperti yang yang diceritakan dalam peristiwa turunnya wahyu pertama.

Seperti yang sama-sama kita tahu, dalam peristiwa tersebut malaikat jibril menuntun Muhammad untuk melakukan iqra. Bahkan setelahnya beliau sampai jatuh sakit selama beberapa minggu. Sebenarnya dalam kejadian tersebut, malaikat jibril sama sekali tidak meminta beliau untuk membaca dokumen tertulis.

Kalau begitu, apa yang terjadi sampai beliau sakit? Beliau sakit karena sadar dan paham bahwa Jibril sedang mengajari beliau melihat sesuatu yang tidak tampak oleh orang lain. Bahwa iqra adalah to see the unseen. Ini dalah perkara yang sangat berat sehingga wajar beliau jatuh sakit.

Sebenarnya kemampuan iqra inilah yang menjadi tujuan setiap proses pembelajaran di sekolah maupun perguran tinggi. Memang upaya ke arah ini tidak ringan. Rasulullah saja sampai demam panas dingin, apalagi kita sebagai manusia biasa. Wajar hal tersebut juga terjadi dalam sebuah proses pencarian. Kadang seorang ilmuwan bisa sakit hanya untuk memahami sesuatu. Ini karena dalam iqra, ada proses hermeuneutikal, atau proses memaknai segala sesuatu ciptaan Allah.

Akhirnya menjadi khalifatullah haruslah memiliki kemampuan intelektual (iqra) yang cemerlang., sekali lagi iqra memang tidak ringan. Diperlukan semangat, daya juang, hati yang ikhlas,serta kesiapan intelektual. Ini semua seperti yang tertuang dalam QS al-Jatsiah : 13. Allah sudah mengajarkan tentang peningkatan kualitas proses berfikir abstrak. Untuk apa? Untuk memampukan diri sendiri melihat tanda-tanda, symbol-simbol, atau notasi dalam setiap penampakan alam. Kemudian juga dalam QS Ali-Imran : 13 Allah mengajarkan tentang pentingnya penajaman mata hati untuk memampukan diri melihat adanya sebuah pelajaran pada setiap tanda-tanda alam. Lalu selanjutnya pada surat Al-Baqarah: 269 Allah mengajarkan tentang pentingnya pengembangan akal untuk memampukan diri mengambil pelajaran setelah eksistensi pelajaran tersebut diyakini sebagai mata hati.

Itulah tiga pelajaran yang langsung diberikan Allah kepada kita untuk memampukan diri kita melaksanakan iqra, yang pada akhirnya bisa meningkatkan kapabilitas intelektual kita . Untuk melihat yang tidak tampak (to see the unseen).

Disarikan dar khutbah Jum’at

Masjid Salman ITB 30 Januari 2009

Prof. Dr. Maman A. Jauhari

Advertisements
Hakikat Kalifatullah : To See the Unseen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s