Ketika ikhwan dan akhwat berpapasan

suatu sore ketika pengen pulang ke asrama dan hendak menuju parkiran salman

ada seorang al akh yang bertanya padaku
” fiq ntm kalau ketemu akhwat nyapa ga (nyapa disini berarti salam “asslamualaikum”) ??
wah, kaget juga dapet pertanyaan tiba-tiba gitu..

setelah berfikir sejenak, yang keluar dari benak adalah

“wah, bergantung akhwatnya g***”.. ga tahu juga kenapa bisa jawab begitu,, anehnya akh yang tadi menjawab
“ana juga gitu fiq”

dan alhamdulillah, setelah percakapan singkat tadi, Allah berkenan memberi tahu, jawabannya melalui diskusi di milist sebelah…
berikut petikannya

———————————————————————————————————————————————————————————————————-

akh a*** mengirim email yang potongannya

saya dan beberap ikhwan beriktikad tidak akan mendahului mengucap salam kepada akhwat bila mereka saya atau dia sendirian.
tapi pernah ada adik AM yang tanya, saya sampaikan bahwa itu “ikhtiar saya saja”, agar kami tidak terkena fitnah. karena kami sadar bahwa kami juga Anda menarik dan wajar bila saling tertarik. Namun hal yang harus dicegah adalah hubungan intensif antara keduanya.
demikianlah kata ibnul qayyim, saat beliau mengatakan bahwa cinta itu muncul karena :
1. ada hal yang menarik pada diri seseorang.
2. ada perhatian pada hal yang menarik itu.
3. ada interaksi antara keduanya.

lalu dari pihak akhwat ada yang me-reply

untuk akhifillah a***,
mengenai ikhtiarnya tdk mau duluan memberi salam..hm..hm. .aneh juga ya..
kalo katanya ustad h****..memberi salam ke lawan jenis sah2 saja, dilakukan dengan cara ‘lempeng’ dan tidak berlebihan

n dibalas lagi ma akh a***

kasusnya, bila saya (kami) jalan sendiri, bertemu dengan m**** seorang, insyaallah ga akan menyapa… bukan bermaksuud sombong, namun hanya menjaga hati kami. kami cuma ingin hati dan pikiran kami tenang aja.
beda kalo, saya jalan berdua bertemu ukhti seorang…
atau saya seorang bertemu m****, d****, ato v****, nah insyaallah kami akan memberi salam duluan agar mendapat keutamaan insyaallah.
saya sepakat dengan ustadz H****, ko. It’s Ok, demikianlah.
yang penting niatnya ikhlas. Ya, tho?
———————————————————————————————————————————————————————————————————-

hohohoho, sepakat banget, jadi kalau ketemu ikhwan akhwat berbarengan, ayuk senyum dan sapa,
asslamualaikum.. agar ukhwah tetap hangat di hati kita..

karena senyum adalah sedekah temudah yang diberikan Allah kepada kita

ditulis sambil mendendangkan nasyid “senyum” dari Raihan

Advertisements
Ketika ikhwan dan akhwat berpapasan

7 thoughts on “Ketika ikhwan dan akhwat berpapasan

  1. inshallahshaheed says:

    mmm…. gimana yah
    saya gak ngerti kesimpulanya

    kalau setahu saya sih
    mengucapkan salam itu sunnah (yg wajib kan menjawab salam)
    menjaga pandangan itu wajib

    toh ukhuwah hangat kan bukan yang ternodai pandangan terlarang

  2. faqih says:

    bingung nih mau kasih comment apa.tapi jika kasusnya kayak gitu pada umumnya akhwat or ikhwan bakalan saling tidak tegur sapa. seperti ada pengalaman seorang teman akhwat saya, waktu itu dia sdg berdiri di simpang jalan menunggu angkutan umum. kebetulan ada seorang ikhwan yg usianya lebih muda, lalu teman saya secara spontanitas senyum pada ikhwan itu.
    tanpa diduga reaksi yg diharapkan berbeda.
    ternyata tuh ikhwan malah bengong dan lgsg memalingkan wajahnya ke arah yg lain.
    melihat reaksi ikhwan tadi, teman saya cuma bisa dongkol, gak abis pikir bakalan dapat respon keki seperti tadi. padahal dari awal mmg dia tdk berniat untuk senyum.
    klu pengalaman saya sendiri, saya hanya akan mengucapkan salam jika tanpa sengaja saya dan ikhwan tsb bertemu muka, maka saya akan mengucapkan salam tanpa senyum hanya ekspresi biasa saja untuk menjaga hati.

  3. @inshallahshaheed & faqih

    coba baca sekali lagi artikel saya. Disana disebutkan bahwa memberi salam kepada lawan jenis, hanya dan hanya jika akhwat tersebut sedang berada dalam rombongan akhwat

    tidak sendiri, dan tidak perlu senyum (walaupun ini masih bisa diperdebatkan juga, memberi senyum kan sedekah), jika tidak bisa menjaga hati. Dan yang paling penting, tetap ucapkan salam.

  4. an malah sependapat dengan pendapat pertama antum, emang tergantung orangnya…

    pertama : kalo emang kita udah kenal dekat orangnya dan ga akan pernah ada rasa2 tertentu, ya udah senyum2 sama salam juga gapapa. istilah udah resisten sama orang itu buat punya rasa,

    kedua : ni kalo kita ketemu dengan si orang itu, hati kita jadi terganggu, apalagi ditambah salam sama senyum…iman gak kuat,,makanya mending tidak melakukan hal yang sunnah itu (salam)

    tak tahu sih benar salahnya, itu yang saya lakukan…jadi kalo ketemu akhwat gak salam tu bukan berarti sombong, alasan pertama yang diatas, alsan kedua gak kenal atau lagi konsen mikir hal lain

    1. lah yu… justru itu yang menurut ana berbahaya
      berarti ada pembedaan perlakuan kan??

      apalagi, jika masalah ini sudah menyangkut soal rasa.
      dan kata siapa, ada istilah “udah resisten sama orang itu buat punya rasa”

      jujur aja yu,, ana itu menarik, dia juga.. ya pasti punya kecenderungan untuk saling tarik menarik lah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s