Tentang Menghafal Al-Quran

kutulis catatan ini terutama untuk diriku sendiri yang sampai saat ini belum bisa konsisten menghafal ayat-ayat cintaNya

agar setiap catatan yang tertulis bisa menjadi penyemangat. Bahwa kamu pernah menuliskannya Sur!!! secara teori kamu sudah lulus, tinggal dipraktekkan saja.

kemudian, agar setiap catatan yang tertulis menjadi pengingat. Bahwa jangan sampai menulis atau mengatakan sesuatu yang kamu belum/tidak pernah berniat melakukannya. Sungguh Allah membenci orang-orang yang tidak melakukan apa yang dikatakannya.

kemudian lagi, agar setiap catatan ini menjadi berkah yang berlimpah-limpah terutama untuk penulisnya dan untuk pembaca semua. Semoga bermanfaat.

*catatan ini disarikan dari 2 orang ustadz pengajar al-Quran saya di Bandung: Ustadz Ade Hanafi, dan Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, ditambah nasehat-nasehat bijak dari Kang Irfan dan Kang Abdur. Semoga Allah melimpahkan berkahNya kepada mereka semua.

#1 Menghafal Al-Quran itu hakekatnya pengulangan.

Pernah ada yang bertanya,

“ustadz, kenapa kok saya ini susah sekali menghafal. Sekali menghafal langsung hilang. Beberapa jam saja sudah hilang lagi. Apa karena bi’ah (lingkungan) yang tidak mendukung ya??”

kemudian dengan bijak ustadz menjawab

“Ya Akhi, hakikat menghafal al-quran itu memang mengulang. Justru antum harus merasa bersyukur diberi kesempatan oleh Allah untuk lupa. Untuk mengulang-ulang kembali bacaan Al-Quran. Jangankan bacaan yang memang kita lupakan, bahkan bacaan yang  sudah kita sangat hafal pun wajib diulang-ulang. Contoh paling nyatanya adalah al-Fatihah. Mungkin ini memang rahasia dari Allah, yang membuat bacaan al-Quran itu seperti unta. Yang jika tidak diikat maka akan dengan sangat mudah lari dari ingatan kita. Karena itu ikatlah hafalan antum dengan pengulangan”

Di lain kesempatan, seorang ustadz yang lain bercerita

“akhi, kalau di luar negeri (waktu itu ustadz menyebutkan negeri pecahan rusia yang mayoritas pendudukanya muslim, punten saya lupa), penghafal al-quran disana biasa satu ayat hingga 3000 kali untuk menghafal. Karena itu wajar saja jika bacaan itu begitu terikat kepada dada-dada mereka”.

#2 Menghafal al-Quran itu tidak terkait kapasitas otak. Keimanan memegang peranan jauh lebih penting

yah, statement ini yang benar menghantamku jauh sampai ke lubuk hati. Penjelasan turunannya banyak.

Adalah keimanan yang akhirnya mengantarkan sampai kepada keinginan untuk menghafal. Dimana sebagian yang lain puas hanya dengan membaca.

Adalah keimanan yang membuat ayat al-Quran menjadi mudah baginya

Adalah keimanan yang membuat seseorang konsisten untuk membersamai targetan hafalan yang sudah dicanangkan. Sesulit apapun situasi yang dihadapi.

Ya, persoalan menghafal ini adalah persoalan keimanan, tidak kurang dan tidak lebih.

#3 Menghafal itu selalu terkait dengan amal sholeh yang lain

Karena menghafal al-quran sangat erat kaitannya kondisi keimanan seseorang, maka tentu saja segala aktivitas harian seorang akan sangat menentukan. Menghafal al-Quran adalah kesinambungan dengan amal sholeh yang lain. Menghafal al-Quran adalah amal sholeh, maka tentu saja akan beresonansi dengan amal sholeh yang lain. Begitu juga sebaliknya. Perbuatan maksiat, dan dosa akan melemahkan semangat untuk terus memperbanyak dan menjaga hafalan kita.

Sebagai penutup, marilah kita berdo’a kepada Allah semoga Ia berkenan menjadikan kita kekasihNya yang selalu dekat dengan kalamNya. Dimanapun dalam kondisi apapun.

_ditulisbukanhanyauntukdibacatapidilakukan_

Advertisements
Tentang Menghafal Al-Quran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s