mengambil hikmah yang terserak

it’s not the evet of our live that shape us, but  our beliefs as to what those events mean

Yup, bukanlah kejadian-kejadian dalam hidup kita  yang membuat kita semakin dewasa dan bijak dalam hidup ini, akan tetapi kemampuan kita mengambil pelajaran dan hikmah dalam setiap kejadian itulah yang sejatinya membentuk diri kita.

hikmah itu tersebar di dalam setiap peristiwa dalam kehidupan kita. Dan orang yang paling beruntung adalah orang yang bisa mengambil hikmah sebanyak-banyaknya dalam setiap detik kehidupannya.

Bandung-Jogja-Solo-Jogja.  Bukanlah perjalanan yang sebentar. Banyak hikmah yang terserak disana. Izinkanlah diri ini berbagi beberapa hikmah yang sempat terpetik kepada teman2 semua dalam tulisan ini. Semoga bermanfaat.

(Hikmah 1) Luruskan niat sebelum melakukan apapun.

entah mengapa hati ini  sebenarnya banyak ga enaknya ketika akan melakukan jaulah ini. Akan tetapi melihat semangat teman-teman, kesungguhan squad FSLDK,  ditambah tatapan mata pak kepala, akhirnya diri ini memastikan diri ikut ambil bagian dalam jaulah ini. Dan untuk menenangkan hati, maka niatnya harus jelas. Dan berharap semoga bisa membagi niat baik ini ke teman-teman satu rombongan.

“Jaulah ini bukan sekedar jalan-jalan. Akan tetapi refreshing ruhiyah dan fisik, pemantapan ukhwah, dan penyambung tali silaturahmi. Barakallah untuk rombongan Gamais 2010. Road to Jogja dan solo, berangkat…!!” , ini status FB saya persis  sebelum berangkat menuju Jogja-Solo.

(hikmah 2) Mintalah do’a ketika hati tidak tenang.

Ini masih berhubungan dengan perasaan tidak enak di hikmah yang pertama. Entah mengapa sebelum berangkat, malam itu hati saya benar-benar merasakan suatu perasaan yang tidak enak. Khawatir dan cemas. Membawa rombongan sebesar ini, tentu membawa konsekuensi logis berupa tanggung jawab yang berlipat kepada penanggung jawab rombongan. Dan entah mengapa saya termasuk salah seorang yang di-sms oleh teteh dari MS-G untuk turut menjaga rombongan ini.

Sungguh, saya tidak terbayang apa yang terbayang dalam benak saudara saya (baca: pak kepala) ketika tanggung jawab ini dibebankan ke beliau. Saya saja yang “hanya” menerima sms seperti itu langsung menjadi tidak tenang. Maka berulang kalilah saya memohon do’a kepada para “tetua” di kampus. Kepada kang Gama yang kebetulan lewat, entah berapa kali saya minta kepada beliau agar mendoakan rombongan ini. Semoga selamat sampai tujuan dan mendapatkan banyak hikmah dari perjalanan ini. Selanjutnya saya juga mengirimkan sms, ke semua MS-G ikhwan (kang agung, kang panji, da adi, dan mas widi) untuk minta do’a beliau. terakhir saya juga mengirimkan SMS ke “guru ngaji” saya, dan meminta do’a dari beliau.

Dan sms saya pun berbalas. Do’a-do’a yang meluncur dari mereka sedikit menenangkan hati saya, dan semakin memantapkan keyakinan bahwa insya Allah, acara jaulah ini tidak akan menjadi acara yang sia-sia. Dimana rombongan bisa semakin dekat kepadaNya.

(hikmah 3) ikhwah yang menguatkan

Pernah ada seorang kader dakwah di Jakarta, yang memberikan testimoni terkait ustadz Rahmat Abdullah, dengan ungkapan yang sangat indah. “Sunguh, kedatangan beliau saja sudah merupakan tausiyah bagi saya”.

Dan itu lah yang saya rasakan ketika bertemu dengannya di Masjid Kampus UNS siang itu. Ya Akhi, rupamu mungkin memang sangat biasa, bentuk fisikmu pun mungkin tidak terlalu indah, akan tetapi sungguh Allah memancarkan sesuatu dari wajahmu. Entahlah apakah saudara saya yang lain merasakannya, akan tetapi sungguh saya merasakannya. “Aura” itu sama sekali tidak bisa disembunyikan.

Yup, dari sini saya belajar. Bahwa keimanan dan hubungan yang baik kepada Allah memang mempunyai “daya pancar”. Sekali lagi Allah membuktikannya kepada saya dengan bertemu ikhwah dari Wonogiri itu. Barakallah akhi, izinkan saya belajar dari ntm di pertemuan-pertemuan kita selanjutnya.

(hikmah 4) Khasnya warung kota Jogja

Ramah, hubungan penjual dan pembeli tidak hanya sebatas penjual dan pembeli. Ada ikatan sosial disana. Ditambah obrolan dengan bahasa jawa yang membuat ingatanku melayang ke masa kecil dulu. Saat-saat liburan yang indah di kota Solo.

Satu lagi, masakannya terasa sangat hommy dan hangat, mungkin ada bumbu cinta disana. Benar-benar tidak menemukan suasana warung makan itu di bandung yang “dingin” apatah lagi jakarta yang “beku”.

santapan pertama saya di jogja. Berasa ada bumbu cinta disana.. ^^

(hikmah 5) Menyambung silaturahmi, mempererat ukhwah

Bertemu kakak!!! mantap lah Mas-ku satu ini. Udah dijemput, ditraktir macam-macam, dibeliin oleh-oleh, pelaynannya mantap lah!!. akan tetapi sayang, karena keterbatasan waktu, tidak sempat main ke rumah bulek yang ada di selatan jogja. Yah semoga lain kali sempat main kesana. Menyambung silaruhami. Merekatkan yang lepas, mengeratkan yang lenggang.

terus, juga bisa bertemu saudara, yang sepertinya sudah lama sekali tidak bertemu. Mas Hendra Yunan. Saudara di Mata’ 14 dahulu. Wuih makin gemuk aja ini orang. Dan semakin sukses dengan bisnis transpotasinya. Teringat sebuah pertanyaan yang dahulu saya ajukan ke beliau ketika akhir-akhir masa TPB di salman. “Akh, ntm kedepannya mau aktif dimana? Mata’, Gamais, atau yang lain”. “ana akan coba bisnis akh”. Dan ketika itu saya hanya mengangguk dan berdo’a semoga jalan bisnis ini bisa jadi jalan dakwah beliau yang baru. Ya, karena sesungguhnya tidak peduli kita ditempatkan dimana, sedang beraktifitas sebagai apa, karena sesungguhnya kita adalah da’i sebelum apapun!! Barakallah akh hendra, Maju terus bisnisnya, jadilah pengusaha transportasi yang bersih, peduli, dan profesional!.

(hikmah 6) Transportasi, subjur pilihan di SIPIL!!!

entah mengapa, merasa mendapatkan kemantapan hati setelah berkunjung dan melihat-lihat keadaan kota Jogja. Ditambah celetukan dari saudara saya “Fiq, Jogjakarta itu secara pengaturan tata kota baik, akan tetapi dari segi pengaturan transportasi publik, amburadul parah”.

wah mendengar hal itu saya jadi tertarik. Mungkinkah suatu kota, yang ditata dengan baik, akan tetapi memiliki jaringan transportasi yang buruk ?  Transportasi seperti apakah yang paling cocok untuk kota seperti Jogja, dimana becak masih banyak, delman masih meraja, dan sepeda ontel bukanlah suatu yang asing.

wah menarik!! ayo kita kaji sistem transportasi kota jogja. Hidup transport !!!

transjogja, salah satu “solusi” permasalahan angkutan umum di kota ini

(hikmah 7) UGM, kampus miniatur Indonesia

berbeda dengan ITB yang homogen dari segi keilmuan dan gerakan, UGM bagaikan miniatur kecil dari negara majemuk Indonesia. Dari sisi keilmuan, jelas UGM dengan berbagai fakultasnya adalah salah satu universitas di Indonesia, dengan ragam keilmuan yang sangat beragam. Dari sisi asal mahasiswa, UGM pun menampung mahasiswa dari seluruh tanah air dengan karakter budayanya masing-masing. Pun dari segi pemikiran dan gerakan. Dari gerakan paling kiri ke gerakan paling kanan semuanya ada di UGM.

Sampai keluar celetukan dari saudara saya di UGM. “Kalau mau memperbaiki Indonesia, perbaiki dulu UGM. Kalau mau lihat sejauh apa gerakan ini diterima di Indonesia, silahkan lihat UGM!”

(hikmah 8 ) lain-lain

tentang arsitektur islam. Khususnya tentang masjid-masjd yang ada di nusantara dan bumi Allah. Sungguh sangat menarik untuk dikaji. Tahukah kawan, ternyata masjid-masjid di UGM rata2 berpintu seperti MasKam yang kemarin kita tempati. Pintunya terbuka lebar. Tidak seperti di salman yang antara teras (koridor-koridornya) dengan ruang utama dibatasi oleh pintu kayu. PH!! kita ambil arsitektur islam di semester 8 yok. Mohon bimbingannya ya.

Terus tertarik juga dengan arsitektur gedung-gedung tua dan khas belanda nie. Bangunan paling menarik di Jogja -menurut saya- adalah gedung DPRD dan Bank BI-nya. Belanda banget. Jadi pengen masuk kesana.

Terus tentang pasar. Ketika jalan-jalan dan menikmati suasana sore di malioboro, jadi terpikirkan tentang pasar. harus banyak-banyak menundukkan pandangan disana. Dan pandai-pandai berkelit karena ikhtilat yang luar biasa. Benarlah mungkin suatu riwayat yang mengatakan bahwa rumahnya setan itu di PASAR. karena sangat mudah sekali menjerumuskan manusia ketika sedang ada di pasar. Dari penjual yang penipu dan culas, sampai pembeli yang sempit hati, dan pelit.Dari bercampur baurnya orang-orang, sampai kesempatan untuk mencuri.

suasana malam ujung jalan malioboro

yah inilah mungkin sebagian hikmah yang terserak, dari perjalanan bandung-jogja-solo-jogja-bandung kemarin. Sungguh masih sangat sedikit sekali diri ini belajar dari setiap peristiwa. Saya yakin saudara saya yang lain, lebih mantap dalam mengambil hikmah dari perjalanan kemarin. Mohon maaf kalau dalam penulisan hikmah ini ada kata-kata yang menyinggung ataupun kata-kata yang tidak enak di hati pembaca semua.

Sesungguhnya yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah datangnya dari saya pribadi yang dhaif.

_sebuahcatatanperjalananbandungjogjasolo_

Advertisements
mengambil hikmah yang terserak

3 thoughts on “mengambil hikmah yang terserak

  1. Nice story.
    Syukron bagi2 hikmahnya, tentunya hikmah tersebut lebih melekat pada yang menjalankannya.

    Oya, ada ga perbedaan interaksi ikhwan-akhwat antara ITB dengan UGM/UNS?

  2. Manusia tak pernah lepas dari segala pengalaman hidup, baik hidup susah dan senang, baik dan jahat merupakan proses hidup dalam pendewasaan berfikir untuk menemukan jati diri sebenarnya, perjalanan hidup yang penuh tantangan membuahkan hasil sesuai harapan, walaupun kadang hasil yang diinginkan tidak sesuai dengan yang diharapkan “tidak sesuai dengan kenyataan hidup”. sudara…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s