dua fenomena

Menanggapi fenomena akhir-akhir ini, sama sekali tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali beristighfar sebanyaknya. Entahlah apa fenomena itu benar adanya atau hanya kasuk-kusuk tidak jelas yang mencoba menggoyang barisan ini. Setan memang selalu punya banyak cara.

Saya paham bahwa kecenderungan itu niscaya, bahwa hadirnya rasa itu asasi. Tetapi, menyalurkannya tidak sesuai dengan syari’at adalah kekeliruan besar. Apatah lagi dengan status aktivis dakwah yang disandang. Mungkin tidak dengan cara-cara yang dzahir, kelihatan, dan nyata, tetapi bukankah kita sama-sama tahu kalau amalan hati itu lebih utama dari pada amalan dzahir. Dzahirnya boleh taat, tetapi jika hati tidak mengikutinya, munafik namanya !!

Lagipula apa yang kurang dari petunjuk Allah tentang hal ini, diberitakanNya dengan lembut bahwa rasa kecintaan kita itu memang asasi, memang niscaya, memang sesuatu yang Allah ciptakan bersamaan dengan adanya kita. Namun, bukankah ada yang lebih baik daripada itu, tidakkah Allah, Rasul, dan Jihad di jalanNya, cukup memenuhi cinta seorang Mukmin !?

Saya marah!! saya sedih!! saya kecewa!! menanggapi fenomena ini. Tetapi kemudian saya sadar, bahwa memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. “Tak ada seorang muslim yang taat kepada Allah, tanpa melakukan maksiat sedikitpun kepadaNya.” Tak ada seseorang di dunia ini yang berbuat maksiat kepada Allah, tanpa melakukan ketaatan sedikitpun kepadaNya. Barangsiapa ketaatanya melebihi kemaksiatannya, maka hal itu merupakan suatu kewajiban” begitu imam syafi’i mengulas. Sehingga, memaafkan kesalahan diri, dan saudara  seharunya menjadi sebuah keniscayaan. Ia adalah salah satu akhlaq mulia yang Allah turunkan untuk menyemai persaudaraan diantara hati-hati penuh iman.

Fenomena kedua yang tidak kalah meresahkan adalah fenomena tajassus. Saling memata-matai. Membicarakan aib saudaranya, dan semakin merapuhkan barisan ini dari dalam. Padahal salah satu hak saudara kita  adalah ia harus aman dari lidah dan perilaku kita.

Diam mungin jadi solusi pertamanya. Pengertian diam disini, biarlah ustadz Said’ Hawwa yang menjelaskannya. Diam adalah tidak menceritakan aib orang lain, baik ketika orang itu ada di hadapan kita maupun tidak. Bahkan kita sebaiknya pura-pura tidak tahu aib orang itu. Termasuk dalam pengertian diam disini adalah tidak menjawab, tidak menanggapi, dan tidak mendiskusikan aib orang lain. Disamping itu maksud diam adalah tidak memata-matai dan tidak menyakan hal ikhwal seseorang”.

Solusi kedua mungkin prasangka baik. Hendaknya kita tidak memahami perbuatan dengan persepsi buruk selama kita dapat memahaminya dengan persepsi yang baik. Carilah seribu satu alasan bahwa saudara kita selalu berusaha untuk taat kepadaNya. Kemudian berlapang dadalah. Terakhir, mari sama-sama kita hayati pesan nabi tercinta tentang persaudaraan hati yang ditautkan oleh iman ini.

“Janganlah kalian menyelidiki dan memata-matai, jangan pula saling memboikot dan saling memusuhi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara” Jika buhul ikatan persaudaraan ini adalah iman dan ia adalah sekuat-kuatnya ikatan, maka janganlah kita rusak ia dengan prasangka yang lemah lagi hina.

Advertisements
dua fenomena

4 thoughts on “dua fenomena

  1. Rasulullah saw pernah bersabda:
    “Demi Allah, aku tiada membiarkan suatu keburukan. melainkan aku pasti melarang kalian dari melakukannya.”

    sebenernya kalo yang ane pahami ada 2 kondisi pik,
    harus husnudzan saat berita itu datang. mencoba mengajak yang lain juga untuk husnudzan.
    namun dalam diri sendiri selalu muncul kecemasan untuk melakukan tabayun personal secepatnya (ga pake nunggu syuro, tabayun murobbi, tabayun ikhwah atau apalah), untuk memastikan bahwa hal itu tidak benar atau mengingatkan secepatnya.

    *Al Asr: 1-3*

    1. poin ana sama ntm sebenarnya ga jauh beda benk…
      nah, fenomena kedua yang ana ceritakan itu, muncul karena tidak adanya tabayyun personal.. malah enak membicarakan sana, membicarakan sini, sinis sana, sinis sini… itu yang ga ana suka boi… yah dengan berbagai macam alasanlah… yang intinya malah membuat masalah semakin berlarut-larut..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s