FAQ Fiqh #6 : Menjawab Pertanyaan Seorang Saudari

wah, rasanya udah lama banget ga nulis fiqh di blog ini. Alhamdulillah, akhirnya diberi kesempatan lagi, setelah mendapatkan email yang cukup mengejutkan. Ditanya beberapa soal fiqh oleh seorang saudari, dan alhamdulillah, pertanyaannya rasanya tidak jauh-jauh dari buku-buku yang pernah saya baca Akhirnya saya memberanikan diri dan mencoba memberikan jawaban sebisa-bisa saya memahami persoalan-persoalan ini. berikut balasan email yang saya berikan kepada saudari saya tersebut.

***

Assalamualaykum warahmatullah wa barakatuh

Ba’da tahmid dan shalawat.

Ok, **, i’ll try to answer your (or your friend) question. And to answer these question, i use 3 main references : Fatwa-fatwa Kontemporer, and Halal dan Haram dalam islam, both are written by Dr. Yusuf Al-Qadarawi and Menuju Jama’atul Muslimin written by Husain bin Muhammad bin Ali Jabir M.A.

these are my answers… enjoy…

1. r***** baru tau kl hukum ke negara kafir itu haram tanpa tujuan yg darurat, spt berobat, berniaga, atw belajar ilmu yg tidak ada d negara islam, apa haditsnya ini shahih? nah bagaimana dgn negara kita, yg staw r***** tdk melaksanakan hukum Islam sbg dasar pemerintahan, apa berarti negara kita bukan negara Islam dan bagaimana hukumnya kita tinggal di Indonesia ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita berangkat dari definisi tentang negara islam dahulu atau dalam bahasa lain bisa disebut Jama’ah muslimin (jamaah kaum muslimin). Pengertian jama’ah kaum muslimin dari buku “menuju jama’atul muslimin” adalah jama’ah ahlul aqdi wal hilli (masyarakat penganut islam dan agama lainnya serta alim ulama mujtahidin)  apabila menyepakati seorang khalifah umat dan uat pun mengikuti mereka.

Dari definisi diatas kita berangkat ke pemahaman bahwa saat ini tidak ada satu institusi pun di dunia, baik berupa gerakan maupun negara yang dapat mengklaim dirinya adalah Negara atau institusi pemerintah untuk seluruh umat muslim di dunia (jama’atul muslimin). Yang dapat dikatakan terkait masalah ini hanyalah adanya “jama’ah dari sebagian kaum muslimin” bukan “jama’tul muslimin” atau “negara kaum muslimin.

Diantara bukti dan dalil yang menjelaskan pernyataan diatas adalah sebagai berikut

a. hadist panjang dari hudzaifah bin al yaman

“ … lalu apakah yang baginda perintahkan kepadaku sekiranya kau menemui keadaan itu ? beliau bersabda, “ hendaknya kamu berkomitmen kepada Jama’atu muslimin dan imam mereka.” Lalu aku bertanya “jika mereka tidak mempunyai jama’ah dan imam?” Beliau bersabda “Tinggalkanlah kelompok-kelompok itu semuanya, sekalipun kamu harus menggigit akar pohon (islam)”

Hadist ini jelas memberitahukan akan datang masa ketika umat islam tidak mempunyai jama’ah / negara sebagai tempatnya bernaung. Karena seandainya ketidakmunculan itu mustahil, niscaya dijelaskan Rasulullah kepada Hudzaifah.

b. Bukti lain tidak adanya jama’atul muslimin adalah adanya beberapa pemerintahan negara islam. Karena islam tidak mengakui dualisme pemerintahan dalam tubuh umat. Bahkan jika muncul penguasa kedua, maka islam memerintahkannya untuk membunuhnya secara langsung.

“apabila di bai’at kepada dua orang khalifah, maka bunuhlah khalifah yang terakhir dari keduanya”. (HR Muslim dan ahmad)

Arti hadist ini menurut imam Namawi adalah  apabila ada seorang khalifah yang dibai’at setelah ada seorang khalifah, maka bai’at pertama itulah yang sah dan wajib ditaati. Sedangkan bai’at kedua dinyatakan bathil dann diharamkan taat kepadanya.

Sekiranya dibolehkan ada lebih dari satu pemerintahan islam, tentan Ali .ra tidak akan memerangi Mu’awiyah dan menumpahkan darah tokoh-tokoh umat islam dari para sahabat yang mulia.

c. Hadist shahih yang memberitahukan bahwa akan ada saat dimana hilangnya pemerintahan dalam umat islam

Dari usamah al-bahlil dari Rasulullah Saw, beliau bersabada “sendi-sendi islam akan runtuh satu demi satu, setiap kali satu sendi runtuh, akan diikuti oleh sendi-sendi berikutnya. Sendi islam yang pertama kali runtuh adalah pemerintahan dan  yang terkahir adalah shalat.

Dari penjelasan diatas, kesimpulan saya, adalah saat ini tidak ada yang bisa menjustifikasi suatu negara, adalah negara islam dan negara lain adalah negara kafir. Sehingga hukum yang menyatakan haram untuk pergi ke negara kafir baik itu untuk berniaga maupun untuk urusan lain menjadi tertolak. Untuk pertanyaan kedua saya rasa sudah dijawab dengan penjelasan diatas.

2. r***** masih sangat bingung dgn hukum bernyanyi dan musik krn sejujurnya buat r***** aja bernyanyi/musik sudah lazim sehari2.. apakah mutlak haram atw dibolehkan dgn batas2an tertentu? berbagai pendapat yg r***** baca justru membingungkan krn sifatnya kontradiktif satu sama lain.

Jawaban untuk pertanyaan ini saya ambil persis dari seorang ulama kontemporer yang luar biasa Dr. Yusuf al Qadarawi dalam bukunya fatwa-fatwa kontemporer. Berikut saya lampirkan PDF yang membahas tentang hal ini secara lengkap.

Namun yang bisa saya simpulkan dari penjelasan Dr Qardawi, nyanyian di halalkan dan faedahnya terhadap dirinya sesuai dengan niat masing-masing.

Oleh karenanya barang siapa  mendengarkan nyanyian dengan niat mendorongnya untuk berbuat maksiat kepada Allah berati ia fasik, demikian pula terhadap selain nyanyian. Dan barang siapa mendengarnya dengan niat untuk menghibur hatinya agar bergairah dalam menaati Allah dan menjadikan dirinya rajin dalam melakukan kebaikan maka ia adalah orang yang taat dan baik, dan perbuatannya itu termasuk dalam katagori kebenaran. Dan barangsiapa yang tidak berniat untuk taat juga tidak untuk maksiat, maka mendengarkan nyanyian itu termasuk laghwu (perbuatan yang tidak ada faedahnya)

Beliau juga memberikan syarat-syarat yang harus dijaga :

  1. tema atau isi nyanyian harus sesuai dengan ajaran dan adab islam. Nyanyian yang berisi kalimat “dunia adalah rokok dan gelas arak” bertentangan dengan ajaran islam yang telah menghukumi arak sebagai sesuatu yang keji.
  2. Penampilan penyanyi juga harus diperhatikan agar sesuai dengan adab islam. Kadang-kadang syair yang dinyanyikan tidak kotor, tetapi penampilan pembawanya yang membawanya pada keharaman.
  3. Kalau agama mengharamkan berlebihan dalam hal agama, maka bagaimana pemikiran anda mengenaui sikap berlebihan dalam sesuatu yang mudah? Karena itu jangan berlebih-lebihan dalam mendengarkan nyanyian yang membuat melalaikan kewajiban-kewajiban yang besar dan memikirkan tujuan-tujuan yang luhur.

Dan sungguh alangkah lebih baiknya jika waktu yang ada digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang bermanfaat, ceramah atau nasihat para ulama misalnya, atau mendengarkan al-quran. Karena mendengarkan al-quran ternyata merupakan salah satu wirid Qurani yang harus kita lakukan.

Para sahabat Rasulullah ketika mendengarkan al-Quran, seolah di atas kepala mereka ada seekor burung. Para ulama mekah dai kalangan orang-orang shalih, terbiasa meminta imam syafi’i membacakan al-Quran untuk mereka. Dan seketika itu pula mereka menangis. Demikianlah saat ini kita harus menumbuhkan kembali kegemaran mendengarkan al-Quran. Ia harus menjadi menu utama, sedangkan nasyid islami cukuplah hanya dijadikan selingan sesaat. Hati-hati dan waspadalah terhadap selain itu, karena dapat memalingkan kita dari dzikrullah.

3. r***** baru tau kalo ada yang mengharamkan berfoto dan menyimpan foto kecuali darurat seperti paspor/SIM/KTP dgn alasan adanya hadits bahwa malaikat tidak akan masuk ke rumah orang yg menyimpan gambar2.. tetapi ada pendapat juga yg mengatakan bhw hukum dasar berfoto/menyimpan foto adalah mubah

jawaban lengkap terhadap pertanyaan ini, silahkan melihat pada PDF fatwa-fatwa kontemporer Dr. Yusuf Al Qadarawi, tentang hukum fotografi. Pada intinya : fotografi itu mubah (boleh), karena ia tidak termasuk ke dalam aktifitas mencipta sebagaimana disinyalir hadist dengan kalimat (menciptakan seperti ciptaanKu). Aktifitas fotografi hanyalah menangkap bayangan. Sehingga ia terhukum mubah.

4. bagaimana hukumnya memakan makanan daging yang tidak disembelih dgn nama Allah/tidak disembelih oleh seorang muslim? krn stw r**** ada mahzab yg mengatakan bhw boleh memakan daging yg disembelih dan diolah oleh org2 yang beriman kepada Allah sebagai Tuhan Semesta Alam, yang berarti boleh memakan daging (ayam, sapi, dkk) di Eropa, Australia (nasrani) dan tidak boleh memakan daging di negara yang masyarakatnya umumnya irreligion (spt Jepang)? karena sejujurnya stw r***** bahkan makanan2 laut (seafood) atau beberapa jenis sayuran pun di luar negeri juga tidak dapat diketahui dgn pasti kehalalannya krn bisa saja dalam pengolahannya melibatkan kaldu babi/alkohol/sejenisnya.banyak yg bilang smua perbuatan tergantung pada niat dan r***** jg yakin bahwa Islam mengatur bukan utk mempersulit, tapi jujur r***** masih baur dgn konsep kebenaran atau justru hanya sekedar pembenaran.. 😦

Binatang yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah hukumnya haram. Binatang yang disembelih bukan karena Allah ini termasuk binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, misalnya nama berhala kamum penyebah berhala. Sebab diharamkannya binatang yang disembelih bukan karena Allah ini, semata-mata karena illah agama, dengan tujuan melindungi akidah tauhid, kemurnian akidah, dan memberantas kemusyrikan dengan segala manifestasi berhalanya. (baca hal 43, pdf halal dan haram dalam islam). Mengenai sembelihan ahli kitab, Allah dan Rasulullah telah menghalalkannya seperti yang dijelaskan oleh syaikh al-‘utsaimin. Tentang dalil dan penjelasannya, bisa dilihat pada link berikut ini http://www.youtube.com/watch?v=P9-TTe0q2IQ

Adapun tentang bangkai seafood, Allah mengecualikan 2 binatang dari katagori bangkai yaitu belalang dan ikan dan binatang yang hidup di dalam air. (baca hal 45, pdf hala dan haram dalam islam)

“dihalalkan bagi kamu binatang buaruan laut dan makanannya” (al-maidah 96)

Waallahu’alam.

Semoga Allah memberikan taufiq bagi yang membaca dan menulis risalah ini. Kalau ada yang salah tolong segera beri tahu ya. Karena baik yang menjawab pun tidak lebih baik kepahaman agamanya dari yang bertanya. Yuk kita sama-sama belajar dan mengubah diri menjadi lebih baik.

Salam ceria sehangat jihad. Your broher in islam

Taufiq Suryo Nugroho

15007031

***

demikian jawaban-jawaban saya, terkait pertanyaan yang diajukan saudarai saya. Berikut saya lampirkan, file-file e-book yang menjadi bahan rujukan saya dalam menjawab persoalan-persoalan diatas.

DR. Yusuf Qardhawi – Halal Dan Haram Dalam Islam dan

Fatwa-Fatwa Kontemporer -Dr. Yusuf Qardhawi..

Advertisements
FAQ Fiqh #6 : Menjawab Pertanyaan Seorang Saudari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s