Lonceng Kematian Angkutan Umum Kota Besar

Kematian angkutan umum dikota besar saat ini seperti tinggal mengunggu waktu. Pertumbuhan kendaraan pribadi di Indonesia, utamanya di kota-kota besar sungguh mengkhawatirkan. Tercatat di Jakarta pada tahun 2010 populasi kendaran bermotor mencapai 11.362.396 unit kendaraan. Terdiri dari 8.244.346 unit kendaraan roda dua dan 3.118050 unit kendaraan roda empat. Sementara itu tingkat pertumbuhan kendaran mencapai 11 % pertahun. Lalu dimana posisi angkutan umum kita ?

Kondisi angkutan umum di kota besar kita bisa dikatakan sangat buruk. Baik dari pengelola angkutan maupun kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, bisa dikatakan tidak ada yang mendukung keberlanjutan dari angkutan umum di kota-kota besar. Mulai dari sarana prasarana yang disediakan oleh pemerintah, sampai kepada pengelolaan angkutan umum itu sendiri. Akibatnya diperkirakan suatu saat angkutan umum dikota-kota besar akan mati dan tidak mampu lagi beroperasi.

Kita bisa lihat fasilitas pelayanan transportasi umum yang semakin buruk. Terminal yang dibiarkan tanpa ada perbaikan dengan peremajaan,  statiun kereta api yang tidak terawat, halte yang berubah menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima, dan lain-lain. Belum lagi jika kita berbicara toliet-toilet umum yang ada di tempat pemberhentian. Keadaannya sungguh sangat menggenaskan. Sebagai akibat dari memburuknya fasilitas umum ini, maka tidak heran jika angkutan umum semakin ditinggalkan oleh para penumpangnya.

Dari segi pengelola pun penuh dengan masalah. Sampai saat ini tidak ada angkutan umum yang bisa memberikan kepastian jadwal kedatangan armada, dan lama waktu tempuh perjalanan. Busway di Jakarta sebagai terobosan baru dalam penyediaan pelayanan angkutan umum sekalipun belum memiliki jadwal keberangkatan yang pasti. Hal ini berakibat buruk bagi penumpang yang akan menggunakan angkutan umum, karena ia tidak bisa memastikan jadwal keberangkatan dari tempat asal, maupun estimasi waktu untuk sampai ke tempat tujuan. Penumpang kemudian memilih menggunakan kendaraan pribadi. Penumpang kendaraan umum berkurang sehingga pendapatan pun menurun dan memperburuk kinerja finansial pengelola angkutan umum.

Masalah lain adalah buruknya pengaturan trayek angkutan. Kebanyakan angkutan umum memadati jalur-jalur “gemuk” yang ada di kota besar, sehingga tercipta kompetisi yang tidak sehat antar jalur angkutan umum. Mari kita ambil studi kasus kota Bandung. Ada kurang lebih 10 trayek yang melewati depan Bandung Indah Plaza. Begitu pula trayek yang melewati Statiun Hall kota Bandung. Hal ini  menyebabkan okupansi dari tiap angkutan umum semakin kecil. Akibatnya pendapatan menurun dan memperburuk kinerja finansial pengelola angkutan umum.

Hal lain yang mempercepat kematian angkutan kota di kota-kota besar adalah, kendaraan yang dipakai sebagian besar berkapasitas kecil, seperti mikrolet. Akibatnya pendapatan per round trip yang didapat rendah. Belum lagi kemacetan yang semakin memperbesar biaya operasi kendaraan disamping mengurangi jumlah round trip yang bisa didapat. Semua ini mengakibatkan pendapatan menurun dan memperburuk kinerja finansial pengelola angkutan umum.

Sebagai akibat dari memburuknya kinerja finansial pengelola angkutan kota, maka pengelola tidak bisa melakukan peremajaan armada. Biaya perawatan armada yang sudah ada pun akan semakain mahal dan mempercepat kematian usaha pengelola angkutan umum. Armada yang jelek dan sudah tidak layak pakai akan menurunkan penumpang lebih drastis lagi. Jika sudah begini maka tinggal menunggu waktu sampai pengelola angkutan umum, gulung tikar dan beralih menekuni usaha lain. Inilah skenario lonceng kematian angkutan umum di kota-kota besar di Indonesia.

Lalu bagaiman agar semua ini tidak terjadi ? diperlukan solusi management transportasi yang komprehensif untuk menyehatkan angkutan umum kota besar di Indonesia. Pertama, pemerintah kota setempat harus menumbuhkan kesadaran bahwa menyediakan angkutan umum yang memadai bagi warga adalah kewajiban pemerintah. Sehingga tidak seluruh biaya pengadaan maupun operasi dibebankan kepada pengelola angkutan. Kedua, perlunya mengatur seluruh sistem angkutan kota dalam satu kesatuan yang terintegrasi dan saling mendukung. Tidak melihatnya secara parsial-mikro, tetapi melihat jaringan angkutan kota ini secara komprehensif-makro. Terakhir, penyedian  sarana  dan prasarana untuk angkutan kota yang massal dan cepat harus segera diupayakan oleh pemerintah kota besar diseluruh Indonesia, untuk menjawab kebutuhan akan transportasi perkotaan yang semakin bertambah volumenya.

 

 

Advertisements
Lonceng Kematian Angkutan Umum Kota Besar

6 thoughts on “Lonceng Kematian Angkutan Umum Kota Besar

      1. khristya says:

        wow, TA mu tentang kereta ya fiq? baru tahu.
        padahal motivasi saya dulu masuk sipil gara-gara kereta. Tapi pada akhirnya berbolak hati ke jembatannya,

        ini kuliah mpll, dari bapak yang lucu, baik dan bijak bestari itu kan?!

        memang pembahasan transportasi harus dilihat secara komprehensif, jadi ingat kata bapak mpll yang lucu, baik dan bijak bestari, “masih banyak jalan yang harus diselamatkan, tidak hanya dilihat dari sudut pandang hari ini saja”

  1. Kalau di power itu ada kuliah tentang kereta listrik. Judulnya Sistem Transportasi Elektrik
    Sangat amat cerah prospeknya untuk mengatasi kemacetan yang ada di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s