catatan ibu ainun (1)

* bagus buat para istri, dan calon istri

thareq (anak beliau dengan pak Habibi, red) lahir waktu kami di Hambrug. Anak-anak tumbuh dengan cepat. Musim pun berganti : Pakaian anak harus diperbaharui setiap musim. Mereka harus sekolah. Keluarga bertambah, biaya asuransi meningkat. Timbul kebutuhan baru : membeli rumah; kami tidak tahu berapa lama lagi kami harus hidup merantau

Setelah thariq agak besar, sudah berumur 4 tahun, saya memberanikan diri bekerja. Memang terasa suatu keputusan tersendiri. Saya profesional. Saya mandiri. Penghasilan saya lebih dari cukup : hampir mengimbangi penghasilan suami. Saya bisa membantu suami membeli tanah dan rumah di Kakerbeck. Juga di desa jauh dari kota. Waktu berumur 6 tahun Thareq sakit keras. Dan terasa ada sesuatu yang mengganjal. Sehari-hari mengurusi anak orang lain padahal anak sendiri tidak terawat. Maka kembalilah saya pada falsafah hidup sewaktu di Oberforstbach : falsafah hidup yang mengutamakan anak dan keluarga dari pada mencari kepuasan profesional dan penghasilan tinggi. Menyesalkah saya mengambil keputusan itu ? Menyesalkah saya berketetapan menjadi pecinta istri dan ibu?

***

Poin yang dapat diambil disini bukanlah, tentang pengekangan istri untuk berkarya dan berkembang diluar. Bukan, sama sekali bukan. Poin yang dapat diambil adalah keputusan merdeka seorang istri untuk lebih memperhatikan keluarga, suami dan anak-anaknya dari pada sekedar mencari kepuasan profesional sendiri. Dan untuk ini kisah ibu ainun harus saya acungi jempol. Beliau wanita hebat yang mengerti hakikat dirinya.

Saya jadi teringat ibu saya yang harus pontang-panting mengurus saya, kakak-kakak, serta adik saya, dimana saat itu pekerjaan bapak saya mengharuskan untuk berpindah dari kota besar ke kota besar lain dalam jangka waktu sekitar 2 tahunan. Padahal ibu saya adalah seorang pegawai negeri yang pastinya juga mempunyai karier tersendiri. Tetapi itu semua dikalahkan oleh kecintaannya pada bapak, kakak-kakak, saya dan adik saya. Saya jadi suka sedih, jika teringat yang sering mengetikan surat cuti diluar tanggunagan negara ibu saya adalah saya sendiri. Betapa pengorbanan yang luar biasa…

i luv you mum..

semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlimpah-limpah

Advertisements
catatan ibu ainun (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s