Cinta Rasa Peradaban

Kalau ada buku yang saya udah lama punya, kemudian baru dibaca sepenuh hati dan mencoba benar-benar memahami isinya dengan baik, mungkin “serial cinta” karya ust anis mata adalah salah satunya. Ya buku ini sudah saya punyai sejak saya tingkat 1 kuliah ! dan baru benar-benar dibaca saat ini. Hasilnya, saya terpana ! benar-benar terpana ! kalau ada buku dimana kayaknya setiap kalimatnya pengen saya garis bawahi, saya tandai, saya jadikan quote, keknya buku ini masuk ke dalam list ! keren banget lah isinya. Sesuai banget deskripsi yang ada di kata pengantar bukunya, merasai cinta dengan cita rasa peradaban.

dan utamanya buku ini, mengajarkan makna cinta dari sisi yang cukup komprehensif.  Jujur, saya belajar lebih banyak tentang “tangga kedua peradaban” dari buku ini dibandingkan dari buku lain. Dan artikel dari buku ini yang paling saya sukai adalah “Mari Belajar Mencintai”

Jika cinta pada semua jenisnya adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita. Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kualitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian yang kuat dan kapasitas yang besar yang mampu mencintai. Orang-orang lemah, yang setiap saat bisa kita saksikan disekitar kita, tidak akan pernah bisa mencintai. Bahkan untuk mencintai diri mereka sekalipun. Takdir mereka adalah menantikan cinta dan kasih sayang orang-orang kuat.

orang-orang kuat mencintai dengan segenap kesadarannya. Maka mereka terus menerus memproduksi kebajikan demi kebajikan. Sementara orang-orang lemah bahkan tidak memiki kesadaran untuk mencintai. Maka mereka terus mengkonsumsi kebajikan orang-orang kuat. Itu sebabnya orang-orang kuat dalam masyarakat merupakan faktor kohesi yang merekatkan masyarakat. Mereka merekatkan masyarakat dengan cinta dan kebajikan mereka. Makna inilah yang ditebarkan oleh Rasulullah SAW begitu beliau tiba di Madinah dan memulai kerja membangun negara baru itu : “wahai sekalian manusia, tebarkan salam, berikan makan, bangun sholat malam saat orang lain tertidur, niscaya kalian akan masuk syurga dengan damai”

Ini merupakan penjelasan dari keterampilan berikutnya. Bahwa untuk bisa mencintai, bahwa untuk menjadi pencinta sejati, kita harus mengembangkan kapasitas dan kepribadian kita. Cinta adalah pelajaran tentang bagaiman mengubah kepribadian kita menjadi lebih baik secara berkesinambungan, pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang produktif untuk bisa memberi, pelajaran tentang bagaimana menjadi orang kuat yang penyayang, pelajaran tentang bagaimana melimpahruahkan kebajikan abadi bagi penumbuhan kehidupan orang-orang di sekitar kita yang kadang berujung tanpa sedikit pun rasa terima kasih atau bahkan penolakan.

Ini bukan pelajaran teknik atau keterampilan mencintai seperti ketika belajar tentang teknik berkomunikasi dengan orang lain, atau bagaimana merebut hati seseorang untuk suatu hubungan cinta asmara. Bukan, sama sekali bukan tentang itu. Ini adlah pelajaran tentang bagaimana membangun kembali dasar-dasar kepribadian yang kokoh dan tangguh, yang memungkinkan kita mencintai secara sadar, bertangung jawab dan  bertindak produktif untuk membuktikan cinta itu dalam kenyataan. Dan dengan begitu cinta bukan saja berefek pada perbaikan berkesinambungan terhadap hubungan kemanusiaan kita, tapi juga terutama pada perbaikan kehidupan kita seluruhnya secara berkesinambungan.

Dan ini mungkin dan terbuka. Semua kita bisa mempelajarinya.  Alasannya sangat sederhana. Rasulullah bersabda ” Ilmu diperoleh dengan belajar. Kesabaran diperoleh dengan belajar menjadi sabar. Kesantunan diperoleh dengan belajar menjadi santun”. Ini menjelaskan bahwa disamping karakte-karakter bawaan yang melekat dalam diri kita sebagai warisan genetik, semua karakter lain dapat kita peroleh dengan mempelajari dan menerapkannya dalam kehidupan kita.

Begitu juga dengan cinta, begitu juga cinta. Semua kita bisa mencintai. Semua kita mungkin menjadi pecinta sejati. Asal kita mau belajar. Asal kita mau belajar mencintai.

Advertisements
Cinta Rasa Peradaban

2 thoughts on “Cinta Rasa Peradaban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s