Pejabat

Jangan dikira negeri sekecil belanda, mampu menjajah kepulauan ini selama 3,5 abad tanpa bantuan anak negerinya. Sejak dulu pejabat-pejabat anak negeri ini telah rela menjual bangsanya untuk kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya. Bupati-bupati tanah jawa dulu, adalah raja-raja kecil tanah jawa yang menjual rakyatnya kepada penjajahan ekonomi dagang ala VOC dan Belanda. Seperti ayah nyai ontosoroh dalam roman Pramoedya yang bahkan rela menjual anaknya untuk segenggam jabatan dan gemericik emas. Pejabat pribumi yang menjual kepentingan bangsanya sering kali bersifat : (sok) berkuasa, degil, dan bodoh.

Dan saat ini, sempurna sudah mental pejabat ala penjajah, bertransformasi dalam birokrat negeri ini. Pejabat masa kini tak ada ubahnya bos besar yang (sok) berkuasa atas rakyatnya namun sebenarnya adalah bebek-bebek penjilat emas dan kedudukan yang ditawarkan kepadanya. Tidak ada bedanya dengan para pendahulunya. Sedikit sekali pejabat-pejabat yang ada, hadir untuk berbakti kepada rakyatnya. Mungkin karena pejabat yang ingin berbakti kepada rakyatnya tidak akan pernah terpilih menjadi pejabat, habis dilibas sistem.

Mental (sok) berkuasa ini juga menular kepada kinerja hariannya. Seorang eselon satu bisa saja membatalkan pesanan hotel yang sudah dirancang jauh-jauh hari untuk dirinya, hanya karena beberapa kepala dinas terkait tidak datang pada saat rapat. Padahal urusan yang akan dibahas berurusan dengan kepentingan banyak orang. Lebih lagi, uang yang digunakan untuk membayar hotel adalah uang rakyat !

Kedegilan para pejabat ini jelas telihat sejak dari tata letak kantornya. Cobalah sekali-kali berkunjung ke kantor-kantor birokrat negeri. Para pejabat selalu ingin diposisikan lebih tinggi dari teman-teman sejawatnya. Ia merasa bahwa dengan posisi dan jabatan yang dipegangnya ia berhak untuk mendapatkan perlakukan yang berbeda. Ruangan khusus, menyuruh anak buah untuk berhadapan dengan tamu-tamu yang tidak “diinginkannya”. Mental pejabat yang enggan melayani dan mau turun kebawah.

Karena berbagai sifat yang melekat pada posisinya, para pejabat yang terbeli ini sejatinya adalah boneka. Mulutnya telah disumpal oleh uang, dan keberaniannya telah dibeli oleh rasa takut kehilangan jabatan. Jadilah ia orang bodoh, yang hanya mampu berpikir bagaimana menyenangkan para majikan yang sudah memberinya uang dan jabatan. Jadilah iya seorang “yes man” sejati didepan majikannya dan menjadi diktator “pokoknya” di depan rakyat yang menanti kebijakannya.

Di negeri yang semakin kehilangan harapan ini, semoga segera muncul generasi baru bebas dari hantu masa lalu. Pejabat-pejabat baru yang mampu memimpin kepulauan ini menuju cahaya.

Advertisements
Pejabat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s