Legends of Condor Heroes: A Review

Even when repaying favors, we must be clear on what is right and wrong. Though I didn’t do anything for my country as a song. I will never become their enemy. If I were to ignore what is right and wrong to repay khagan’s kindness, then I would be disloyal! (guo jing to khagan)

When a boy love a girl, he becomes smart. When a girl love a boy, she becomes silly (huang rong to guo jing)

Without parting, how it become happy reunion? Without death how would you treasure the loved one before you ? (Qi Qong to his disciple huang rong and guo jing)

Above, is several quotes form one of my favorite TV series ever: Legends of Condor Heroes. I first hear this story about 15-16 years ago, when one of the series is on air in one of TV channel.  One that made me like this drama so much is the variation character in this drama and interaction between them. Besides, you can a lot of inside by watching this drama.

Legend of condor heroes mostly tells us about the adventure of young hero Guo Jing. Gou Jing had a sworn brother named Yang Kang. His father and Yang Kang father were a very good friend and lived at nuan yu village. One day, they opponent, the emperor of the Jin, attack their village. Gou Jing father died because of that and Yang Kang father run away to save his live. How about their wife? Guo Jing mother run away to the north to save her live and her son as well. They were saved by the Mongolian ruled by Khagan while Yang Kang’s mothers were taken by the Jin enemy, Wan Yan Hon Lie. Wan Yan Hon Lie was in love by Yang Kang mother Bou Xiruo, and decided to take her to his palace.

So Guo Jing and Yang Kang live in very different place and surround. As the result, they become very different in character too. Guo Jing developed to be honest and simple minded person. He is honest, straight mind, brave and very kind person. For some level, he is considered as a dump and silly man. while Yang Kang develop to be a smart, ambitious but also slyness. Nurtured by his biggest enemy and forced to call him dad, Yang Kang has become such biased person.

When he was a child, Guo Jing learned martial art form seven freaks of Jian Nan. He never became smart student and learned slowly, but he is diligent disciple and achieved a good base to improve his martial arts. When he ready, he decide to go south in order to revenge his father. In his adventure he met Huang Rong, love of his life. Huang Rong is such a clever and a bit slyness person. Arguably, she is the cleverest person in this drama. She also inherits her father eccentricity. Initially she doesn’t care other people but herself but when she meets Guo Jing, she is impressed with his kindness.

After their first meeting, Guo Jing and Huang Rong became inseparable couple. They adventure together and can’t help to fall in for each other. Their adventure also grows both of their personality and martial art skills.  Form this adventure it is clear that they fulfill each other personality. Huang Rong cleverness helps Guo Jing to master powerful martial arts form the masters, and Guo Jing kind hearted make Huang Rong to be a better person as well. It is better said : Huang Rong gives Guo Jing brain, but Guo Jing gives Huang Rong heart.

They adventure on pugilist word and meet 4 masters in this era, north beggar, western venom, eastern heretic, and south emperor. They met North Beggar and he decide to take them both as his disciple. They meet southern emperor to recover Huang Rong injury after they chase Book of Wumu in Mt. Iron Plam. They meet Huang Rong’s Father, Eastern Heretic, in Peach blossom island. So Guo Jing can propose marriage to Huang Rong. The antagonist one of this series is western venom. He obsessed by martial arts and doesn’t care anything else includes her nephew (son).

This series also tells us about the development of Guo Jing and Yang Kang relationship. Initially they are sworn brother, but later after Yang Kang betrayal over and over again, they become enemy. Yang Kang is a suspect who kills Guo Jing’s teacher seven freaks of Jian Nan. Yang Kang also betrays Song Country, his own country and become Jin general, but in the end it is him who killed “his own father” and his biggest enemy, Wanyang Hong Lie.  His character is mixed up between good and bad. Sometimes he is in good side, but most of the time he is in bad side. But there is only his love to Mu Niancy that didn’t change. Mu Niancy is his wife, a girl that rise up by his biological father.

In the end of this series, Gou Jing and Huang Rong, finally get married, and live happily in peach blossom island (an island own by eastern heretic). But it always be threats they must overcome: Mongolian plan to invade Song territory after success to defeat Jin. They also have to rise up Yang Kang and Mu Niancy child Yang Gou, after his mother died. They adventure continue in next sequel of this drama : The Return of Condor Heroes. But the main role of this drama is Yang Guo, the child of Yang Kang and Mu Niancy.

Legends of Condor Heroes: A Review

Latihan Kepemimpinan ITB 2012; Great !!

Pemimpin tidak dilahirkan, ia hadir melalui serangkaian peristiwa yang menempanya sehingga pantas dipanggilsebagai Pemimpin

ya, pemimpin tidak dilahirkan, tetapi ia lahir dari lingkungan yang mendukung untuk melahirkan seorang pemimpin sejati. Makan ITB sebagai wadah pencetak pemimpin-pemimpin bangsa ini, berinisitif untuk mempercepat proses pembentukan pemimpin-pemimpin itu sejak mahasiswa. Lahirlah program Latihan Kempemimpinan (Latpim) ITB 2012. Latpim ini sudah memasuki batch yang ke 6 dalam sejarahnya.

Banyak yang berubah dari latpim ini di bandingkan latpim-latpim sebelumnya. Latpim ITB 2012 ini, lebih menekankan tidak hanya pada aspek pribadi pribadi, tetapi juga aspek kempemimpinan komunal dan diskusi masalah bangsa. Kita harus sadar bahwa ITB tidak bisa lagi hanya mencetak pemimpin skala menengah, tidak !! pemimpin yang harus dicetak ITB adalah pemimpin-pemimpin sekelas Bung karno, Bapak BJ Habibie, Bapak Palgunadi dan sederet nama alumni lainnya, yang tidak lagi hanya menjadi tokoh nasional, bahkan sudah menjadi tokoh yang disegani di dunia. Di zaman Globalisasi seperti saat ini, dunia ini menjadi small vilage, sehingga kemepimpinan level dunia menjadi sebuah kewajaran.

Pelatihan ini dibuka dengan 2 hari training 7 habits. Kepemimpinan selalu dimulai dari diri sendiri, berhasil memimpin diri sendiri adalah langkah awal sukses memimpin orang lain. 7 habits dipilih karena metode pelatihan yang interaktif dan langsung dapat diaplikasikan, ITB juga sudah bekerja sama dengan pemegang license sehingga pelatihan yang diadakan benar-benar sesuai standard Steven Covey. Dengan 7 habits ini diharapkan peserta latpim menjadi pribadi yang efektif dan mampu memimpin diri sendiri. Pelatih dari 7 habits ini adalah dosen-dosen dari ITB sendiri. Mereka adalah dosen-dosen terbaik yang sudah terbukti mampu membawakan pelatihan 7 habits dengan sangat baik. Hasilnya !? Peserta puas dan merasa benar-benar tercerahkan dengan materi 7 habits selama 2 hari ini. Semoga materi ini benar-benar dapat diimplementasikan oleh peserta dalam dunia nyata.

Selanjutnya peserta diberi materi-materi wawasan yang berbobot. Diskusi hari ke 3 dimulai dengan tema yang sangat menarik : Ideas of Nation. Ini adalah diskusi panel untuk mendikusikan peran ideologi dalam membangun sebuah negara, dengan mendiskuikan pengalaman negara lain : US, Timur Tengah, serta merefleksikannya dengan kondisi bangsa Indonesia. Pembicara yang hadir sangat mengusai materi dan bisa menyampaikannya dengan baik. Bapak Assegraf bercerita banyak tentang kondisi timur tengah pasca arab spring kemarin. Prediksi-prediksi beliau terkait peta dan masa depan perpolitikan sungguh menarik untuk disimak. Pembicara selanjutnya tidak kalah menarik. Bapak Jhonny Patta. Beliau banyak bercerita tentang pengalaman bangsa Amerika sampai menemukan sistem negara seperti saat ini. Bagaimana sistem kapitalisme bekerja dan menggerakkan negara Amerika. Sesi terakhir pemaparan disampaikan oleh Prof Dede dari UNPAD. Beliau bercerita banyak tentang Pancasila, sejarah Pancasila, pancasila sebagai sebuah ideologi bangsa, bagaimana konteks pancasila saat ini dll.

Siangnya dilanjutkan oleh materi yang sangat menarik dari Pak Palgunadi. Beliau merupakan salah satu alumni ITB yang sukses dan sangat inspiratif. Hingga umurnya yang menjelang 72 tahun, semangat beliau untuk berbagi masih membara. Untuk latpim kali ini beliau membawakan materi the expanding influence. Bagaimana meluaskan lingkaran pengaruh dan menjadi pemimpin yang sukses dalam berbagai fase kehidupan. Dengan pengalaman berliau berkarier lebih dari setengah abad, pernah bekerja di sipil dan militer pernah menjadi vice president, hingga menjadi komisaris, lengkap sudah penjelasan yang beliau berikan. Belum lagi ditambah nasehat-nasehat spiritual yang sangat kental dalam berbagai paparannya. Satu kalimat untuk pak Palgunadi : Aura Kebijaksaan (wisdom) beliau begitu terpancar, dengan segala pengalaman hidup yang beliau miliki.

Sesi sore tidak kalah seru, walaupun sesi ini masih diisi dengan materi di dalam kelas, tetapi karena yang mengisi materi adalah salah seorang dirut BUMN terkemuka di Indonesia : Bapak Zulkifli Zaini Direktur Utama Bank Mandiri. Beliau bercerita tentang kepemimpinan transformasi terutama pengalaman di Bank Mandiri. Kita tahu bank madiri dahulu adalah gabungan dari beberapa bank yang sakit dan hampir colaps. Dengan kerja keras dan kemampuan memimpin yang luar biasa, bank mandiri saat ini bertransformasi menjadi Bank BUMN dengan laba terbesar di Indonesia. Pak Zulkifli Zaini banyak bercerita tentang etos kerja dan gaya kepemimpinan Direksi Bank Mandiri hingga mencapai prestasi seperti saat ini. Terakhir para peserta dikejutkan dengan pemberian tabungan total 5 juta kepada 5 peserta yang bertanya dan mampu menjawab dengan tepat.

Melengkapi hari   yang inspiratif ini, malam hari juga diisi oleh salah seorang “guru bangsa” : Prof Jimly Asshiddiqie. Beliau membawakan materi yang mungkin jarang sekali didapatkan oleh anak ITB : ideas of constitution of Indonesia. Ide-ide dasar pembangun konstitusi Indonesia. Materi ini sebenarnya materi yang berat, apalagi jika dibawakan malam hari, tetapi dengan pengetahuan akan hukum Indonesia yang luar biasa, ditambah gaya penyampaian yang asyik dan penuh joke cerdas, materi yang berat ini jadi terasa mengasyikkan. Beliau banyak bercerita tentang sejarah konstitusi di Indonesia, cacat-cacat yang ada pada konstitusi dan perbandingan konstitusi indonesia dengan negara-negara lain.

Esok harinya, seperti pada hari-hari sebelumnya, peserta memulai hari dengan ibadah shubuh, olahraga, mandi dan sarapan. Dengan demikian diharapkan peserta siap untuk menerima inspirasi-inspirasi baru di hari kelima pelaksaan Latpim ITB 2012 ini. Materi pagi dibuka dengan diskusi panel membahas Crucial Issue of the Nation, isu-isu krusial bangsa. Pengisi acara ini berasal dari latar belakang yang berbeda, sehingga diharapkan peserta mendapatkan gambaran utuh terkait isu-isu kebangsaan terkini. Bapak yasraf amil piliang, membawakan isu-isu di bidang budaya. Beliau adalah ahli budaya, yang juga merupakan dosen ITB. Kemudian Bapak Iman Sugema, membawakan isu-isu di bidang ekonomi. Beliau adalah salah seorang ahli ekonomi dari IPB. Pembicara terakhir adalah Bapak Suripto, beliau adalah mantan kepala Badan Intelejen Negara (BIN) yang membawakan isu-isu bidang politik dan keamanan. Diskusi berlangsung seperti hari kemarin, dengan antusiasme peserta untuk bertanya kepada para pembicara.

Sesi siang hari diisi oleh Kang Aang Kunaefi. Beliau membawakan materi tentang critical thinking error, kesalahan-kesalahan berfikir yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang termasuk mahasiswa dalam memahami realitas sosial. Beliau membawakan materi ini dengan asyik dan contoh-contoh yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Ada 8 kesalahan berfikir yang coba beliau jelaskan beserta contoh-contoh yang langsung mengajak para peserta berinteraksi sehingga sesi ini tidak berjalan membosankan. Diakhir beliau bercerita tentang “kisah kacamata hijau” yang menjadi penutup yang manis untuk sesi ini.

Sesi terakhir untuk kegiatan kelas diisi oleh tak lain dan tak bukan, penanggung jawab acara Latpim ITB 2012 ini. Ketua Lembaga Kemahasiswaan ITB, bapak Brian Yuliarto, PhD. Beliau bercerita tentang rekayasa sosial dan mengambil contoh-contoh rekayasa sosial yang pernah ada. Dan cerita-cerita itu keren !! Peserta diajak berpikir dan membuka mata tentang bagaimana sebenarnya dunia kita saat ini sudah penuh dengan rekayasa-rekayasa. Pilihan kemudian jatuh kepada kita, apakah hanya menjadi penonton atau bahkan korban dari rekayasa tersebut, atau bangkit dan bergerak untuk melakukan rekayasa. Sayangnya sesi ini tidak bisa berlanjut lama karena peserta harus segera beristirahat karena akan melakukan perjalanan yang melelahkan esok paginya.

Hari terakhir Latpim ini dilewati dengan leadership journey yang benar-benar menguras tenaga. Peserta dibangunkan jam 1 dini hari untuk bersiap-siap hiking menuju puncak gunung Tangkuban Perahu. Sampai dipuncak, pas banget ketika sunrise dan peserta diberikan kesempatan untuk menikmati pemandangan sambil merenungkan perjalanan hidup mereka selama ini. Di puncak Tangkuban Perahu itu pula peserta diminta membuat surat untuk dirinya dimasa depan !! yang nantinya surat tersebut akan dikirimkan kembali kepada peserta dengan harapan dapat menjadi inspirasi di masa depan… Setelah puas menikmati pemandangan peserta mulai dimobilisasi menuju terminal jayagiri sebagai start awal serangkaian kegiatan outbond. Di terminal ini mereka dibagi menjadi 6 kelompok : bela negara, sabilil, basss, wali, dll.

Perjalanan selanjutnya dilanjutkan menuju puncak gunung putri yang berada di sebelah tangkuban perahu. Ditengah perjalanan peserta memainkan games “panglima sudirman” untuk mengasah kerja sama dan kekompakan tim. Selanjutnya puncak perjalanan dari jam 2 dini hari diakhiri dengan orasi dari peserta di puncak gunung putri !! orasi yang disampaikan demikian menggugah ! untuk sementara dunia seakan berhenti, dan hanya menyisakan desau angin dan kicau burung parahyangan.  Dalam orasi tersebut nampak tekad peserta untuk mengubah nasib Bangsa Indonesia. Hasil pelatihan 6 hari benar-benar direfleksikan dalam orasi yang disampaikan perwakilan peserta tersebut.

Perjalanan selanjutnya dilanjutkan dengan menuruni Gunung Putri untuk kembali ke tempat acara untuk upacara penutupan. Dalam upacara penutupan ini, disampaikan beberapa testimoni peserta dan tindak lanjut dari pelatihan Laptim ITB 2012 ini. Berikut beberapa testimoni peserta Latpim 2012 terhadap acara Latpim ITB kali ini :

Asik seru bermanfaat, senang punya teman banyak, outbondnya seru banget, kepuasan tersendiri dalam pencapaian sebuah pertualangan (ratna, peserta latpim ITB 2012)

metodenya inovatif dan alurnya sangat sistematis, membuka wawasan, terutama sangat mencerahkan tentang apa yang bisa kita lakukan sebagai manusia. Pemateri sangat berkompeten di bidangnya (Irma, peserta latpim ITB 2012)

Latpim diluar ekspektasi saya. Terus terang saya awalnya tidak berharap terlalu banyak. Akan tetapi saya justru menemukan inspirasi yang sangat banyak sejak hari pertama. Saya bersyukur bisa mendapatkan fasilitas 7 habits (Andika Rio, peserta latpim ITB 2012)

menarik dan luar biasa, menginspirasi mahasiswa terutama dari pembicara-pembicara yang sangat hebat (Febrianus PW, peserta latpim ITB 2012)

dan yang terpenting dari pelatihan ini, peserta benar-benar sadar bahwa hasil dari pelatihan ini tidak dilihat dari 6 hari keberjalanan acara, namun tindakan apa yang dilakukan setelah mengikuti pelatihan 6 hari ini. Kerja-kerja kecil apa yang bisa dilakukan oleh kita untuk mengubah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik !! Tekad itu harus terus ditumbuhkan dan dipelihara, karena ini negeri yang kita cintai !! Ayo bangun Indonesia,,,

Hidup Rakyat Indonesia, Hidup Mahasiswa !!!

Latihan Kepemimpinan ITB 2012; Great !!

Rencana Keuangan 2012

  1. Memiliki penghasilan
  2. Memisahkan pengeluaran bulanan dengan pengeluaran mingguan
  3. Pergi ke ATM seminggu sekali saja
  4. Membayar pajak dan melaporkan SPT
  5. Punya rencana keuangan sederhana buatan sendiri
  6. Mampu membayarkan semua tagihan/biaya hidup sebulan
  7. Punya dana darurat minimal sekali biaya hidup sebulan
  8. Mampu beramal minimal 10% dari penghasilan bulanan
  9. Memiliki rekening belanja (shopping)
  10. Mampu menyisihkan 10% dari penghasilan bulanan untuk ditabung
  11. Mengatur penghasilan tahunan dan pengeluaran tahunan
  12. Mampu berlibur tanpa berutang
  13. Menyiapkan dana darurat lebih besar, minimal enam kali pengeluaran bulanan
  14. Membeli emas / logam mulia sebagai bagian dari dana darurat
  15. Menyiapkan kesiapan financial untuk menuju “anak tangga kedua”.

bismillah, ini target-target rencana keungan sampai akhir tahun 2012…. hayuk mandiri ekonomi, bermanfaat untuk ummat, dan berbuat lebih banyak…

#bekerjauntukindonesia!!

Rencana Keuangan 2012

Satu Bulan Wisuda

banyak yang berubah sejak wisuda 1 bulan lalu, banyak sekali..

Pertama adalah pandangan akan tanggung jawab; Jika dahulu sebelum di wisuda pandangan pada tanggung jawab lebih banyak fokus untuk belajar-belajar dan belajar, maka saat ini pandangan itu berubah melebar. Semakin banyak yang harus dipikirkan, semakin banyak yang harus dikerjakan, semakin banyak yang harus dipelajari.

Tanggung jawab yang pertama tentu saja, adalah tentang kemandirian financial. Sepertinya isu ini menjadi isu yang sangat krusial bagi sebagian lulusan baru perguruan tinggi, apalagi jika laki-laki. Pangdangan umum, bahwa laki-laki harus berpenghasilan itu benar adanya !! Laki-laki itu harus bisa mencari nafkah !! Dan ini benar-benar menjadi tantangan yang luar biasa. Belum lagi jika tanggung jawab financial ini melebar, tidak hanya pada diri sendiri. Namun keluarga terdekat, teman-teman, dan tentu saja Dakwah dan rencana masa depan.

Tanggung jawab kedua adalah tentang mengambil keputusan. Jika dahulu saat persimpangan di SMA, memilih perguruan tinggi, pertimbangan orang tua masih sangat diperhatikan, saat ini porsinya harus mulai dikurangi. Ini keputusan menyangkut hidup kita kedepan !! belajar lah mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup secara mandiri, agar tidak ada penyesalan !! mengambil keputusan ini juga ujian kedewasaan. Semua orang bisa tua, tetapi tidak semua orang mampu dewasa…

Tanggung jawab terakhir adalah tanggung jawab terkait rencana masa depan… entah itu karier yang akan ditempuh, mimpi-mimpi yang hendak diwujudkan, hingga tentang jodoh. Semua itu harus direncanakan, dilewati proses demi prosesnya dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab kepada diri sendiri, orang tua, adek, kakak, keluarga besar, dan tentu saja bertanggung jawab kepada Allah. Rencana-rencana masa depan kita adalah tanggung jawab kita untuk mewujudkannya.

Masa-masa saat ini adalah masa-masa kritis… masa-masa transisi, dimana keputusan yang kita ambil pada saat ini, akan mempengaruhi sebagian besar waktu kita hidup kita dimasa yang akan datang… masa-masa ini adalah masa-masa dimana kita dituntut untuk dapat membuat keputusan besar dalam hidup.

dan untuk sukses melewati masa genting dalam hidup ini coba mintalah kepada Allah yang terbaik, selalu yang terbaik bagi diri kita. Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita, selalu percaya bahwa skenario Allah adalah skenario terbaik. Selalu huznudzan kepada Allah, apapun yang terjadi dalam hidup kita. Selalu hiasi hari-hari dengan sabar dan syukur. Berusaha yang terbaik, bersiap untuk yang terburuk. Perbesar kapasitas diri, dan teruslah menjadi pribadi pembelajar, dimanapun dan kapanpun !

#maaf jika agak random…

Satu Bulan Wisuda

berguru bukan hanya berbuku

Diantara para kader dakwah mungkin banyak yang bertanya ? mengapa saya harus hadir di pembinaan rutin, padahal saya mungkin tidak tahu urgensinya apa? mengapa saya harus hadir di sementara saya tidak tahu urgensinya apa? mengapa agenda pembinaan harus sebanyak itu ? padahal kayaknya saya ikut tiap agenda pembinaan, sama2 aja, saya duduk datang diam, mendengarkan, lalu pulang ? apa urgensinya ikut agenda pembinaan tersebut ?

ketahuilah, untuk menuntut ilmu ntm itu harus berguru, bukan hanya berbuku ! berguru itu artinya tallaqi, bertemu langsung dengan guru yang akan memberikan kita ilmu. Berguru itu artinya menaruh hormat pada siapa yang akan memberikan ilmu kepada kita. Berguru itu artinya berkorban, karena kitalah yang harus mendatangi ilmu, bukan sebaliknya !!

sementara itu dizaman sekarang, saat informasi mengalir sedemikian deras, banyak kader yang melupakan arti berguru. Ia merasa cukup dengan membaca info tentang islam yang banyak beredar di dunia maya. Ia merasa cukup dengan berbuku, dengan membaca dan menyerap informasi yang tersedia.

betap seorang ustadz pernah ditanya : “ustadz mengapa tidak pernah mau memberikan handout materi dari training / materi tadi ?”.

Ustadz menjawab : “agar ntm belajar akh, kalau engga begini ntm ga belajar. Coba ntm refleksikan, berapa banyak dari kita yang sudah beli buku ma’dah tarbiyah, bahkan sudah ditulis syarahnya, tetapi berapa coba yang sudah mendalaminya ?? sementara dulu ketika ma’dah tarbiyah belum dibukukan, belum dicetak, setiap kader berlomba untuk memahaminya, berusaha sekuat tenaga untuk bisa dihafal, untuk kemudian diberikan kepada binaannya. Sekarang, semangat itu makin luntur akhi ! Karena itulah saya jarang sekali memberikan materi yang saya sampaikan, agar barang siapa yang ingin mendapat ilmu, ia harus datang, harus hadir ditengah2 pertemuan kita. Karena yang ingin ana sampaikan bukan hanya materi akhuna sayang, tetapi semangat, energi, dan ruh, yang bergerlora dari materi-materi tersebut !!”

Bukankah karena itu juga pertemuan pekanan kita yang indah disebut liqo’at yang artinya pertemuan. Dimana salah satu parameter utama keberhasilan, parameter sehatnya liqoa’at adalah KEHADIRAN para kader dalam forum bermandikan cahaya tersebut !? Jadi mau tidak mau ikhwah fillah, kita memang harus berguru. Manhaj kita mengajarkan demikian.

ikhwah fillah, Kenapa engkau harus berguru, tidak hanya berbuku? Karena kata-kata mungkin memiliki ilmu dan semangat, namun hati hanya bisa disentuh dengan hati…

berguru bukan hanya berbuku

Istiqomah

saya selalu kagum dengant saudara-saudariku yang benar-benar bisa istiqomah.

masa transisi antara kampus dengan dunia sebenarnya (dunia paska kampus), benar-benar masa-masa krusial dalam hidup seseorang. Dimana disini diuji ketahanan kita untuk tetap berpegang kepada idealita yang kita hadapi di kampus. Terlebih dari para aktivis dakwah. benar-benar diuji bagaiman agar bisa tetap istiqomah dengan nilai-nilai yang diyakini.

Jika dahulu banyak pikiran kita yang kita habiskan untuk program-program dakwah, saat ini bahkan lintasan pikiran untuk berdakwah pun sudah jarang terlintas. Pekerajaan yang kita lakukan pada akhirnya membawa kita pada rutinitas untuk bertahan hidup, bukan untuk memberikan sesuatu pada lingkungan sekitar kita.

Untuk ikhwan, cobaan terberat biasanya datang dari sisi metode mencari maisyah (penghasilan). Diawal ini banyak sekali tawawan yang sifatnya abu-abu. Kita belajar bergelut di dunia nyata dimana banyak sekali orang yang saling sikut untuk mendapatkan materi, ataupun posisi, ghibah menjadi hal biasa, hingga bercanda yang menjurus jorok menjadi obrolan santai. Kita belajar untuk survive ditengah banyaknya nilai-nilai tabu bagi kita.

Untuk akhwat, cobaan terberat biasanya datang dari segi penampilan. Jika dahulu di kampus sangat terbiasa untuk berpakaian syar’i, dengan gamis lebar dan rok panjang, serta kerudung syar’i maka dunia kerja terkadang menuntut untuk sedikit demi sedikit melepas atribut itu. Mulai dari kerudung yang dipendekkan, baju yang dikecilkan hingga melepas rok dan menggantinya dengan celana.

ya, ini kejadian nyata yang mungkin banyak dialami oleh teman-teman seangkatan saya saat ini. Dimana saat ini kita sedang sama-sama berjuang untuk survive di dunia paska kampus, yang ternyata tantangannya sangat berbeda dengan kampus.

Untuk itu, mari kita coba belajar untuk mengeja kata I.S.T.I.Q.O.M.A.H dalam setiap aktivitas kita. Memang berat untuk melaksanakan satu kata sakti ini. Makalingkungan yang mendukung, serta adanya nasihat yang rutin kita dapatkan mutlak diperlukan untuk menjaga keistiqomahan kita. Ada beberapa cara agar kita tetap istiqomah di jalan ini setelah paska kampus :

1. Tetap ngaji. Walau bagaimana pun juga pertemuan pekanan yang kita yang akan menjadi oase penyejuk kita ditengah banyaknya tantangan yang kita hadapi paska kampus. Bukan dengan sengaja nama yang disematkan untuk pertemuan ini adalah usrah yang dalam bahasa arabnya berarti tameng. Ya di pertemuan inilah kita mencoba untuk selalu dapat mencharge ruhiyah kita, mengisi fikriah kita, mengatur amal dakwah kita.

2. Tetap masukkan kerangka dakwah untuk setiap aktivitas apapun yang kita lakukan. Ya ini penting sekali. Mindset bahwa kita adalah du’at sebelum menjadi apapun. Dengan mindset ini kita akan mengarahkan seluruh aktivitas kita tidak hanya untuk sekedar tujuan duniawi, karena tujuan kita sama sekali bukan itu. Mindset tentang menjadi da’i sebelum menjadi apapun ini juga akan kuat sekali membentengi kita dari perbuatan yang diharamkan. Karena kita hadir disana untuk memberikan inspirasi kebaikan, bagaimana pula kita akan bisa memberi inspirasi kebaikan jika kita ikut terjebak dalam sistem yang rusak ? jadi pemeliharaan mindset ini penting sekali.

3. Coba cari rekan seperjuangan di tempat kita beraktivitas. Jika tidak ada, maka buatlah. Cari orang-orang yang hanif dan bisa diajak untuk bekerja sama mendukung kebaikan !!

4. Minta pertolongan kepada Allah. Ya dengan setiap usaha yang dilakukan di atas, kita tetap saja manusia yang lemah yang sering kali tergelincir ketika ujian itu ada di hadapan kita. Maka itu mintalah tolong kepada Allah agar kita selalu dikuatkan, mintalah kepada Allah agar kita dapat selalu ISTIQOMAH di jalan ini !

Istiqomah